Tulisan sudah mulai dilirik media .
Judul tulisan kali ini seakan esktrem banget yaaa ? Seakan sudah menjadi penulis terkenal gitu !! Hahaha .. saya cuman berharap suatu saat bisa menjadi penulis kok , ingin berbagi inspirasi dengan sebuah karya tulis sehingga juga mampu berdedikasi bagi masyrakat di Indonesia .
L-Celebes , inilah media pertama yang menerbitkan tulisan ku melalui sebuah buletin kecil yang disebar di kampus sekali dalam sebulan oleh bagian publikasi Formalis, walaupun merupakan media komunitas namun saya percaya bahwa langkah besar dimuali dengan beberapa langkah kecil ( I believe it ) . Karena tak seorang pun yang tahu bahwa suatu saat tulisan ku akan diterbitkan media terkenal bahkan akan menjadi best seller . Arjuu zalik .
Tulisan kali ini menceritakan tentang sebuah program tahunan Formalis setiap liburan musim panas (begitu kami menyebutnya) , yaitu dedikasi pendidikan bagi putra putri sulawesi khususnya dengan mengadakan dauroh lughowiyah di beberapa tempat pondok di sulawesi . Dauroh kali ini kami mendatangi 4 pondok di Sulawesi yaitu : Darul Falah Enrekang , Syiar Islam Sinjai , Darul Aman Makassar serta Darul Istiqomah Mala mala Sulawesi Tenggara .
Alhamdulillah acara kali ini berjalan dengan lancar walaupun tersapat beberapa tantangan , namun itu merupakan pelajaran bagi kami semua bahwa ternyata masih banyak para anak Bangsa yang mempunyai semangat untuk belajar .
Sabtu, 20 September 2014
Senin, 15 September 2014
Imam Shamsi Ali
→ Menebar Damai Di Bumi Barat.
Amerika, ketika mendengar negara ini yang terbayangkan dalam benak saya bahwa negara ini adalah negara adidaya di dunia ini, negara yang telah sangat maju jika kita memandang dari bidang tekhnologinya, sumber daya mausianya dll, terbukti dengan banyaknya Penemuan penemuan masa kini berasal dari negara yang satu ini.
Sebelumnya tak pernah terbesit dalam benak saya bahwa Islam di negara ini berkembang dengan pesat, atau tak ada ruang yang disiapkan pagi penganut agama islam, mengingat agama ini merupakan minoritas di negara ini, namun semua pandangan itu berubah tatkala saya menemukan sebuah buku dengan judul → Imam Shamsi Ali, Menebar damai di Bumi Barat.
Dalam buku ini penulis menceritakan bagaimana perjuangan Pak Shamsi Ali dalam mendakwahkan Islam di negara yang mayoritas beragama non muslim ini. Sebelumnya Pak Shamsi jga tak pernah membayangkan dia akan tinggal dan berdakwah di negara Liberal ini, namun semua berubah tatkala ia mendapatkan panggilan guna melanjutkan dakwahnya di Negara yang presidennya pernah memcicipi pendidikan di Indonesia ini, karena ia sendiri berasal dari sebuah desa kecil tepatnya di Desa Kajang Kab Bulukumba Sul-Sel.
Singkat cerita Pak Shamsi pun menerima tawaran tersebut seraya tak percaya dan berpikir panjang bagaimana kehiudpannya kelak di Amerika. Seiring berjalannya waktu ia pun menikmati hidupnya di jakarta selaku ketua Muallaf serta Imam Masjid di Islamic center New York. Dia sering mengadakan dialog Interfaith dengan beberapa penganut agama di Amerika sehingga beliau sangatlah dikenal oleh beberapa kalangan agama si New York, juga dengan gaya pembawaaan dakwah yang sangat santun dan bersahabat sehingga sangatlah mendukungnya dalam berdakwah sehingga masyarakat amerika menerima nya dengan sangat mudah.
Satu hal yang perlu dicatat bahwa tak selama semua berjalan dengan lancar, tentu di samping semua itu ada banyak duri serta tantangan dalam dakwah, namun di situlah ia banyak belajar dan terus belajar.
Ini hanyalah sekelumit dari luasnya pengalaman beliau dalam buku ini.
Alhamdulillah buku ini telah saya baca dalam jangka kurang lebih 10 hari, itu dikarenakan sistem penulisan yang sangat mudah tuk dipahami serta menampilkan pengalaman yang sangat luar biasa dari seorang Anak Desa Asal Sulawesi Selatan.
Selaku anak bangsa tentulah saya juga ingin mengikuti jejak pengalaman beliau dalam dakwah, saya juga ingin berkunjung ke negara dimana beliau ini menyampaikan dakwahnya, ya Amerika, salah satu tempat yang ingin saya kunjungi.
Imamuddin Mukhtar
16 September 2014.
11:45 am.
→ Menebar Damai Di Bumi Barat.
Amerika, ketika mendengar negara ini yang terbayangkan dalam benak saya bahwa negara ini adalah negara adidaya di dunia ini, negara yang telah sangat maju jika kita memandang dari bidang tekhnologinya, sumber daya mausianya dll, terbukti dengan banyaknya Penemuan penemuan masa kini berasal dari negara yang satu ini.
Sebelumnya tak pernah terbesit dalam benak saya bahwa Islam di negara ini berkembang dengan pesat, atau tak ada ruang yang disiapkan pagi penganut agama islam, mengingat agama ini merupakan minoritas di negara ini, namun semua pandangan itu berubah tatkala saya menemukan sebuah buku dengan judul → Imam Shamsi Ali, Menebar damai di Bumi Barat.
Dalam buku ini penulis menceritakan bagaimana perjuangan Pak Shamsi Ali dalam mendakwahkan Islam di negara yang mayoritas beragama non muslim ini. Sebelumnya Pak Shamsi jga tak pernah membayangkan dia akan tinggal dan berdakwah di negara Liberal ini, namun semua berubah tatkala ia mendapatkan panggilan guna melanjutkan dakwahnya di Negara yang presidennya pernah memcicipi pendidikan di Indonesia ini, karena ia sendiri berasal dari sebuah desa kecil tepatnya di Desa Kajang Kab Bulukumba Sul-Sel.
Singkat cerita Pak Shamsi pun menerima tawaran tersebut seraya tak percaya dan berpikir panjang bagaimana kehiudpannya kelak di Amerika. Seiring berjalannya waktu ia pun menikmati hidupnya di jakarta selaku ketua Muallaf serta Imam Masjid di Islamic center New York. Dia sering mengadakan dialog Interfaith dengan beberapa penganut agama di Amerika sehingga beliau sangatlah dikenal oleh beberapa kalangan agama si New York, juga dengan gaya pembawaaan dakwah yang sangat santun dan bersahabat sehingga sangatlah mendukungnya dalam berdakwah sehingga masyarakat amerika menerima nya dengan sangat mudah.
Satu hal yang perlu dicatat bahwa tak selama semua berjalan dengan lancar, tentu di samping semua itu ada banyak duri serta tantangan dalam dakwah, namun di situlah ia banyak belajar dan terus belajar.
Ini hanyalah sekelumit dari luasnya pengalaman beliau dalam buku ini.
Alhamdulillah buku ini telah saya baca dalam jangka kurang lebih 10 hari, itu dikarenakan sistem penulisan yang sangat mudah tuk dipahami serta menampilkan pengalaman yang sangat luar biasa dari seorang Anak Desa Asal Sulawesi Selatan.
Selaku anak bangsa tentulah saya juga ingin mengikuti jejak pengalaman beliau dalam dakwah, saya juga ingin berkunjung ke negara dimana beliau ini menyampaikan dakwahnya, ya Amerika, salah satu tempat yang ingin saya kunjungi.
Imamuddin Mukhtar
16 September 2014.
11:45 am.
Perubahan Jadwal.
Memang di dunia jarang ada yang permmanen, peraruran tertentu bisa berubah bersamaan degan berubahnya zaman, yang tadinya di posisi kanan bisa berubah menjadi posisi kiri, yang tadinya teman eh ternyata besoknya sudah menjadi lawan. Namun mungkin itulah Konsekuensi kehidupan yang terjadi, tinggal bagaimana kita memposiiskan diri mengahadapi perubahan itu.
Jadwal Kuliah misalnya, yang tadinya saya kuliah di Rumah Fiqih Indonesia pada hari Minggu, kini berubah menjadi hari Senin pukul 02: 00-21: 30 pm, padahal jam seperti ini adalah jam istieahat bagi beberapa orang, enaknya soh todur siang, khususnya setelah setengah hari duduk di kelas mwndengarkan penjelasa Sang Dosen.
Namun seperti yang saya katakan sbwlumnya bahwa inilah kehidupan, TPH saya ke jakarta bukan untuk santai kok, saya ke sini memang benar benar ingin berjuang menggapai cita cita yang telah lama saya rangkai, perjuangn ini hanyalah sekelumit dari planning beaar yang telah saya rencanakan dari dulu. Abba (panggilan bapak ku) pernah berlata bahwa: Tradisi tidur siang hanya di kenal di Indonesia dan merupakan suatu warisan dari penjajah zaman dahulu, hal inilah yang membuat banyak orang di Indonesia tak memanfaatkan waktunya di siang hari, karena bersumsi bahwa siang itu digunakan untuk tidur , bahkan dalam alquran dengan jelas dosebutkan bahwa: Lami jadikan malam sebagai pakaian dan kami jadikan siang sebagai wktu tuk mencari penghidupan. "Kata abba ku".
Prinsip inilah yang coba saya terpkan dalam kehidupanlu di sini, namin tak dapat kupungkiri bahwa terladang saya terlena dengan hal yang satu ini (tidur siang).
Sebenanrnya sih pada hari senin-jumat saya mengajar di salah sagu TPA yanh tidak jauh dari konttakanku, namun semua itu terpksa saya korbankan karena beranggapan bahwa belajar di RFI merupakan suatu hal yang sangat urgent buat ku. Singkat kata, kapanpun perkuliahan di RFI maka akan kukorbankan waktuku guna mengikuti kegiatan bermanfaat yang satu ini.
Imamuddin Mukhtar
Jakarta, 15 September 2014
pukul 21:50 di Busway.
Memang di dunia jarang ada yang permmanen, peraruran tertentu bisa berubah bersamaan degan berubahnya zaman, yang tadinya di posisi kanan bisa berubah menjadi posisi kiri, yang tadinya teman eh ternyata besoknya sudah menjadi lawan. Namun mungkin itulah Konsekuensi kehidupan yang terjadi, tinggal bagaimana kita memposiiskan diri mengahadapi perubahan itu.
Jadwal Kuliah misalnya, yang tadinya saya kuliah di Rumah Fiqih Indonesia pada hari Minggu, kini berubah menjadi hari Senin pukul 02: 00-21: 30 pm, padahal jam seperti ini adalah jam istieahat bagi beberapa orang, enaknya soh todur siang, khususnya setelah setengah hari duduk di kelas mwndengarkan penjelasa Sang Dosen.
Namun seperti yang saya katakan sbwlumnya bahwa inilah kehidupan, TPH saya ke jakarta bukan untuk santai kok, saya ke sini memang benar benar ingin berjuang menggapai cita cita yang telah lama saya rangkai, perjuangn ini hanyalah sekelumit dari planning beaar yang telah saya rencanakan dari dulu. Abba (panggilan bapak ku) pernah berlata bahwa: Tradisi tidur siang hanya di kenal di Indonesia dan merupakan suatu warisan dari penjajah zaman dahulu, hal inilah yang membuat banyak orang di Indonesia tak memanfaatkan waktunya di siang hari, karena bersumsi bahwa siang itu digunakan untuk tidur , bahkan dalam alquran dengan jelas dosebutkan bahwa: Lami jadikan malam sebagai pakaian dan kami jadikan siang sebagai wktu tuk mencari penghidupan. "Kata abba ku".
Prinsip inilah yang coba saya terpkan dalam kehidupanlu di sini, namin tak dapat kupungkiri bahwa terladang saya terlena dengan hal yang satu ini (tidur siang).
Sebenanrnya sih pada hari senin-jumat saya mengajar di salah sagu TPA yanh tidak jauh dari konttakanku, namun semua itu terpksa saya korbankan karena beranggapan bahwa belajar di RFI merupakan suatu hal yang sangat urgent buat ku. Singkat kata, kapanpun perkuliahan di RFI maka akan kukorbankan waktuku guna mengikuti kegiatan bermanfaat yang satu ini.
Imamuddin Mukhtar
Jakarta, 15 September 2014
pukul 21:50 di Busway.
Minggu, 14 September 2014
Sabtu , 13 September 2014
BAZAR KAISA
Bazar
, suatu kegiatan yang tak pernah saya bayangkan tuk mengadakan nya , namun
semua itu berubah tatkala saya bergabung dalam Kaisa sebagai tim Fundraising ,
bazar merupakan program bulanan kali ini . Dimulai dengan memasang poster iklan
bazar di siang bolong bersama salah satu rekan bernama Afina .
Hari
yang dijadwalkan pun datang , segera kami mempersiapkan segala peralatan tuk
digunalkan dalam bazar kali ini , tak lupa sound system guna meramaikan suasana
. Satu persatu tumpukan barang bekas kami angkut ke samping jalan , mungkin
kegiatan/pengalaman seperti ini tak pernah saya lakukan sebelumnya , namun
semua ini akan menjadi pengalaman berharga bagi saya .
Karena
saya tidak punya sepeda motor maka Afina pun segera menyewa sebuah mobil pick
up yang parkir samping jalan guna mengangkut barang bekas kami yang cukup
banyak .
Beberapa
menit kemudian , taman ketapang pun kami sulap menjadi sebuah tempat menjual
barang kami ini , awalnya sih pengunjung tidak begitu ramai , namun selang
beberapa waktu pembeli mulai antusias datang ke tempat ini dan Alhamdulillah
sedikit demi sedikit barang bekas kami
laku terjual hingga siang hari.
Waktu
terus berjalan dan akhirnya sebuah kesepakatan didapatkan yaitu melanjutkan
bazar kami di malam hari . Tapi kali ini saya tidak ambil bagian karena saya
berangkat ke sekretariat Sahabat Pulau di kebon jeruk Jakarta barat . Alhamdulillah semua berjalan lancar dan tak
terduga ternyata pemasukan kali ini cukup signifikan , terhitung pemasuka kali
ini ialah 1.386.000 . Alhamdulillah .
Sabtu, 13 September 2014
Malam minggu Imam.
Judul kali ini saya terinspirasi dari sebuah karya Fenomenal dengan judul "Malam minggu Miko" maka saya ubah dengan nama saya sendiri .
Malam minggu. Mungkin sudah sangat familiar di telinga para pemuda pemudia sekarang ini, atau bahkan sudah sering tersengar oleh semua orang. Entah kenapa seakan malam yang satu ini seakan begitu spesial bagi beberpa kalangan, mungkin besoknya adalah hari libir kali yaa, maybe. Lain hal bagiku, dimana bagi saya semua malam sama aja kok, tetap seperti biasa Hehehe ..
Malam minggu kali ini saya berkunjung ke sekretariat Sahabat Pulau tepatnya di Jakarta barat, yaa sekedar silaturahim dengan teman di sana, juga mengisi malam minggu ku.
Alhamdulillah disana saya bertemu trman teman hebat yang punya berbagai gagasan gaagsan dan ingin melihat Indonesia ini maju, tentu sdmua mendambakan hal tersebut bukan ??
Saya bertemu dengan Founder Sahabat Pulau Kak Hendriyadi atau lebih dikenal dengan Bang Acho, kak Awan (Koordinator Sahabat Pulau Lampung), Imam serta Fajar yang mahir dalam memainkan Piano, di sini saya juga bertemu dengam beberapa teman dari Sul-Sel yang kuliah di Jakarta, ada Sadri, Rival juga beberapa perempuan teman nnya, kami ngobrol asiek bersama, eehh ternyata Sadri ini pernah satu pesawat dengan saya sewaltu balik le jakarta, namun saat itu saya masih belum kenal juga jadilah hanya sebatas tatapan mata sekilas. Heheh ..
Sunguh luar biasa malam ini ketika bertemu dengan teman teman di Sahabat Pulau. Juga bang Acho menawarkan sebuah program bernama "Sahabat Pulau mengaji" semoga program ini bisa tereliasisasi.
Aamiin.
Judul kali ini saya terinspirasi dari sebuah karya Fenomenal dengan judul "Malam minggu Miko" maka saya ubah dengan nama saya sendiri .
Malam minggu. Mungkin sudah sangat familiar di telinga para pemuda pemudia sekarang ini, atau bahkan sudah sering tersengar oleh semua orang. Entah kenapa seakan malam yang satu ini seakan begitu spesial bagi beberpa kalangan, mungkin besoknya adalah hari libir kali yaa, maybe. Lain hal bagiku, dimana bagi saya semua malam sama aja kok, tetap seperti biasa Hehehe ..
Malam minggu kali ini saya berkunjung ke sekretariat Sahabat Pulau tepatnya di Jakarta barat, yaa sekedar silaturahim dengan teman di sana, juga mengisi malam minggu ku.
Alhamdulillah disana saya bertemu trman teman hebat yang punya berbagai gagasan gaagsan dan ingin melihat Indonesia ini maju, tentu sdmua mendambakan hal tersebut bukan ??
Saya bertemu dengan Founder Sahabat Pulau Kak Hendriyadi atau lebih dikenal dengan Bang Acho, kak Awan (Koordinator Sahabat Pulau Lampung), Imam serta Fajar yang mahir dalam memainkan Piano, di sini saya juga bertemu dengam beberapa teman dari Sul-Sel yang kuliah di Jakarta, ada Sadri, Rival juga beberapa perempuan teman nnya, kami ngobrol asiek bersama, eehh ternyata Sadri ini pernah satu pesawat dengan saya sewaltu balik le jakarta, namun saat itu saya masih belum kenal juga jadilah hanya sebatas tatapan mata sekilas. Heheh ..
Sunguh luar biasa malam ini ketika bertemu dengan teman teman di Sahabat Pulau. Juga bang Acho menawarkan sebuah program bernama "Sahabat Pulau mengaji" semoga program ini bisa tereliasisasi.
Aamiin.
Inilah Kampus ku .
Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab
Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA)
Didirikan 1980
Jenis Perguruan tinggi
Lokasi Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Indonesia
Julukan LIPIA
Afiliasi Imam Muhammad bin Saud Islamic University di Riyadh
Situs web www.lipia.org
Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu tentang agama Islam yang berada dibawah naungan Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud Riyadh. Berlokasi di Jakarta Selatan didirikan pada tahun 1400 H/ 1980 M.
Alamat sekarang: Jl. Buncit Raya No. 5A Ragunan Jakarta Selatan, yang sebelumnya berada di Salemba Raya dan Raden Saleh.
JurusanSunting
Jurusan yang ada di LIPIA adalah:
Jurusan Syari'ah: memberikan gelar Bachelor/Lc dalam bidang ilmu syar'iah. Masa belajar 4 (empat) tahun.
Jurusan Persiapan Bahasa/I'dad Lughowi, terdiri dari empat level, lama pendidikan 2 tahun.
Jurusan Takmily/pra Universitas, lama pendidikan dua semester.
Jurusan Pendidikan Guru/ Diploma, memberikan ijazah diploma umum dalam bidang metodologi pengajaran bahasa Arab bagi non Arab. Lama pendidikan dua semester.
Jurusan Manajemen Keuangan dan Perbankan Islam, Diploma IV, masa belajar 4 (empat) tahun.
Tujuan:
Menyebarluaskan bahasa Arab
Mendidik tenaga pengajar yang ahli dalam bidang pengajaran bahasa Arab bagi non Arab, serta membekali mereka dengan ilmu pengetahuan Islam
Mengembangkan kurikulum bahasa Arab di perguruan tinggi dan sekolah-sekolah di Indonesia.
Memberikan bantuan kepada perguruan tinggi dan sekolah-sekolah berupa, teks book, buku-buku dan alat bantu/peraga.
Menyiapkan tulisan-tulisan ilmiah tentang bahasa Arab praktis dalam pengajaran bahasa Arab.
Mengadakan penataran bagi para guru bahasa Arab.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab
Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA)
Didirikan 1980
Jenis Perguruan tinggi
Lokasi Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Indonesia
Julukan LIPIA
Afiliasi Imam Muhammad bin Saud Islamic University di Riyadh
Situs web www.lipia.org
Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu tentang agama Islam yang berada dibawah naungan Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud Riyadh. Berlokasi di Jakarta Selatan didirikan pada tahun 1400 H/ 1980 M.
Alamat sekarang: Jl. Buncit Raya No. 5A Ragunan Jakarta Selatan, yang sebelumnya berada di Salemba Raya dan Raden Saleh.
JurusanSunting
Jurusan yang ada di LIPIA adalah:
Jurusan Syari'ah: memberikan gelar Bachelor/Lc dalam bidang ilmu syar'iah. Masa belajar 4 (empat) tahun.
Jurusan Persiapan Bahasa/I'dad Lughowi, terdiri dari empat level, lama pendidikan 2 tahun.
Jurusan Takmily/pra Universitas, lama pendidikan dua semester.
Jurusan Pendidikan Guru/ Diploma, memberikan ijazah diploma umum dalam bidang metodologi pengajaran bahasa Arab bagi non Arab. Lama pendidikan dua semester.
Jurusan Manajemen Keuangan dan Perbankan Islam, Diploma IV, masa belajar 4 (empat) tahun.
Tujuan:
Menyebarluaskan bahasa Arab
Mendidik tenaga pengajar yang ahli dalam bidang pengajaran bahasa Arab bagi non Arab, serta membekali mereka dengan ilmu pengetahuan Islam
Mengembangkan kurikulum bahasa Arab di perguruan tinggi dan sekolah-sekolah di Indonesia.
Memberikan bantuan kepada perguruan tinggi dan sekolah-sekolah berupa, teks book, buku-buku dan alat bantu/peraga.
Menyiapkan tulisan-tulisan ilmiah tentang bahasa Arab praktis dalam pengajaran bahasa Arab.
Mengadakan penataran bagi para guru bahasa Arab.
Jumat, 12 September 2014
Kamis 11 September 2015
Selaku Fundraising .
.jpg)
Sebagai salah seorang dari Tim Fundraising di Salah satu komunitas sosial di jakarta KAISA , menagajrkan saya tuk bagaimana memanfaatkan peluang se kecil pun dalam menghsilkan hal hal yang dapat dimanfaatkan komunitas .
Fundraising
adalah sebuah tim penggalang dana dalam beberapa komunitas , namun kalimat “
Fundraising” mungkin masih begitu asing di beberapa telinga orang . Jadi,
Fundraising ini ialah sebuah tim yang bertanggung jawab persoalan dana dalam
kelanjutan program dalam organisasi .
Adapun
KAISA ialah singkatan dai Komunitas pecinta dan pemerhati Anak bangsa, Kaisa
meruapakan sebuah komunitas/ kumpulan dari beberapa anak muda yang peduli
Sosial khusunya kepada kaum margnal, kaum dhuafa serta anak jalanan yang tidak
mendapatkan hak yang sebenarnya mereka dapatkan dari bangsa ini . Namun ketika
kita memperhatikan betapa banyaknya anak anak yang sama sekali tidak medapatkan
semua itu , di stulah kami hadir bersinergi bersama dengan beberapa pemuda
dalam memikirkan anak anak penerus bangsa ini , saya teringat dengan ungkapan
Pak Anies Baswedan “ Mendidik dalah kewajiban orang terdidik “
Sore
ini saya harus mendatangi beberapa toko photo copy guna menawarkan sebuah
progrm kami di Tim Fundraising Kaisa , yaitu menpergunakn hasil kertas bekas
dari photo copy untuk kami jualkan di penimbang barang bekas , alhamdulillah 2
dari 3 photo copy merespon dengan baik dan bersedia membantu kami . Kami akan
datang kembali beberapa hari ke depan “ ungkapku .
Beberapa
hari yang lalu Ka kholid selaku Pembina Kaisa mengadakan pelatihan Fundraising
di gedung Graha Pena , Jatipadang . Hal itu merupakan hal yang pertama bagiku ,
namun satu hal yang menjadi tantangan bagi saya ialah masoh minimnya semngat
Fundraiser dalam diriku , itulah sebabnya pelung emas kadan telewat begitu saja
, lain alnya kalau memang Fundraiser sjati , tentu semua peluang akan
dimanfaatkan . Mungkin salah satu sebab nya karena saya belum pernah langsung
menyaksikan kehidupan beberapa orang yang tinggal di rel kereta api , bawah
kolong jembatan dan beberapa tempat yang tidak layak untuk ditinggali oleh
manusia .
Namun
semua itu akan saya jadikan sebagai pengalaman hidup bagiku , tak apalah semua
ini , tooh saya yakin semua ni akan bermanfaat kelak .
Senin, 08 September 2014
Sudah dua
minggu sejak dimulainya semester 5 di Kampus Biru LIPIA Jakarta . Sebagian
teman baru datang/masuk ruangan kuliah pada hari ini , Faisal salah satunya ,
seorang Pemuda hebat yang saya kenal berasal dari Pinrang .
Pagi itu saya
berjalan ke kampus bersamanya, juga dengan teman lainnya , pembicaraan kali ini
menyangkut tentang apa yang dilaksanakan ketika liburan di kampung 3 bulan
terakhir , semua dengan cerita masing masing tentunya .
Pemandangan
rumah beridiri kokoh menjadi pemandangan menuju kampus , namun semua itu
mengingatkan saya bahwa betapa banyak saudara di luar sana yamng sama sekli tak
mempunyai rumah bahkan harus berjuang hidup dengan tinggal di gerobak sampah
yang ia tarik guna memenuhi kebutuhan hidup bersama dengan keluarganya . Ironis
memang negara ini , negara yang sangat kaya akan sumber daya alam namun tak
diimbangi dengan sumber daya manusia yang mampu bersaing menghadapi zaman yang
makin modern , seakan penduduk bangsa ini menjadii pembantu di rumah sendiri,
pekerja di tanah sendiri , bangsa dengan mudahnya dan leluasa menggaruk semua
sumber daya bangsa ini , mungkin semboyan Bung Hatta : Saya lebih rela melihat
Indonesia tenggelam daripada harus melihat Indonesia menjadi embel embel negara
Asing .
Peran pemuda
dalam hal ini sangat sangat dan sangatlah dibutuhkan guna menggerakkan
masyarakat nya . Namun yang menjadi pemandangan beberapa tahun terakhir ini
betapa banyaknya “Pengangguran terdidik” yang telah menyelesaikan studinya
namun tidak begitu kreatif mengahadapi persaingan dalam bidang pekerjaan.
Malam pun
kembali menyapa di rumah kontrakan kecil milik kami bersama di Jakarta , inin
artinya kami harus berisitrahat guna kembali menghadapi esok hari Insya Allah .
Sangat Disayangkan .
Sangat
Disayangkan .
Sangat disayangkan tatkala semua
catatan harian yang telah kutulis raib tanpa bekas begitu saja .
Sangat disayangkan tatkala Laptop
sudah kurang bersahabat padahal sudah 3 tahun menemani .
Sangat disayangkan tatkala saya masih
sering bersifat layaknya orang yang belum dewasa .
Sangat disayangkan tatkala sholat lail
tak lagi menjadi rutinitas harian sebagaimana dahulu .
Sangat disayangkan tatkala banyak
meninggalkan kewajiban layaknya anak kepada orang tua .
Sangat disayangkan tatkala pemakaian
gadget, hp , laptop serta internet yang tak terbendung memakan waktu .
Sangat disayangakn tatkala tulis
menulis tak menjadi rutinitas lagi .
Sangat disayangkan tatkala sulitnya
menahan pandangan dari berbagai hal yang diharamkan .
Semua itu
telah berlalu dan tak kan pernah kembali , sekarang saya harus menatap ke depan
guna merangkai cita cita yang selama ini masih terekam dalam benak ini . Akan
kurealisasi semua itu Insya Allah .
Saya memohon
kepada Allah swt tuk mengeuhkan hati ini dalam ibadah kepadanya , juga kepada
orang tua saya yang memang senantiasa mendoakan anaknya ini menuju hal yang
lebih baik . Thanks Mam and Dad .
Langganan:
Komentar (Atom)




