Hukum Bacaan bagi ma'mum di Belakang Imam
Adapun hukum bacaan ma’mum di belakang Imam dalam shalat sudah merupakan sebuah permasalahan yang telah dibahas oleh beberapa Ulama pada zaman dahulu .
Perlu kita ketahui sebelumnya di sini bahwa terdapat beberapa hadits dari Nabi Muhammad Saw yang menjelaskan akan hal ini , namun titik permasalahannya ialah dikarenakan beberapa hadits tersebut kontaradiksi satu sama lain , hal ini pulalah yang menyebabkan para Ulama berbeda pendapat dalam menariik kesimpulan hukum dalam permasalahan ini :
Diantara Hadits-hadits yang berkaitan diantaranya :
- لا تجزئ صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب ( رواه ابنا خزيمة و حبان في صحيحهما )
- عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْغَدَاةِ فَثَقُلَتْ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةُ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: " إِنِّي لَأَرَاكُمْ تَقْرَءُونَ وَرَاءَ إِمَامِكُمْ ". قُلْنَا: نَعَمْ. وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا لَنَفْعَلُ هَذَا. قَالَ: " فَلَا تَفْعَلُوا إِلَّا بِأُمِّ الْقُرْآنِ؛ فَإِنَّهُ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا " ) أخرجه ابن خزيمة وابن حبان والدارقطني (
- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ مِنْ صَلَاةٍ جَهَرَ فِيهَا بِالقِرَاءَةِ، فَقَالَ: «هَلْ قَرَأَ مَعِي أَحَدٌ مِنْكُمْ آنِفًا؟»، فَقَالَ رَجُلٌ: نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «إِنِّي أَقُولُ مَا لِي أُنَازَعُ القُرْآنَ؟»، قَالَ: فَانْتَهَى النَّاسُ عَنِ القِرَاءَةِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ( أخرجه الترمذي )
- عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ صَلَّى خَلْفَ الإِمَامِ، فَإِنَّ قِرَاءَةَ الإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ
Dari sinilah muncul perbedaan pendapat dari beberapa kalangan Ulama dalam menyimpulkan hal ini .
Berikut perinciannya :
Mazhab Hanafi
Imam Al Kasaani (ًًًًًW 587 H) dalam kitab nya Bada’i Ash Shana’i Fi Tartib Asy Syara’i dari kalangan Hanafiah mengatakan :
وَصَلَاةُ الْمُقْتَدِي لَيْسَتْ بِصَلَاةٍ
بِدُونِ قِرَاءَةٍ أَصْلًا، بَلْ هِيَ صَلَاةٌ بِقِرَاءَةٍ وَهِيَ
قِرَاءَةُ الْإِمَامِ عَلَى أَنَّ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ قِرَاءَةٌ
لِلْمُقْتَدِي، قَالَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -
«مَنْ كَانَ لَهُ إمَامٌ فَقِرَاءَةُ الْإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ» ،
Adapun asal dari Shalat seorang ma’mum itu tidak dikatakan sebagai
shalat tanpa adanya bacaan , maka bacaan Imam adalah merupakan bacaan
untuk si ma’mum , Sebagiaman sabda Nabi : "Siapa shalat di belakang imam, maka bacaannya adalah bacaan imam." [1]Imam Al Kamal Ibnu Al Humaam (W. 861 H) dalam kitabnya dalam kitabnya Fath Al Qadir li Al ‘Ajiz Al Faqir mengatakan :
وَرَوَى مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ فِي
مُوَطَّئِهِ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي
وَائِلٍ قَالَ: سُئِلَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ - رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ - عَنْ الْقِرَاءَةِ خَلْفَ الْإِمَامِ، قَالَ: أَنْصِتْ فَإِنَّ
فِي الصَّلَاةِ شُغْلًا وَيَكْفِيك الْإِمَامُ
Diriwayatkan dari Muhammad bin Al Hasan dalam Kitab Muwattho’
nya , dari Sufyan bin Uyaynah dari Manshur dari Abi Waail menagatakan :
Bahwasanya Abdullah bin Mas’ud pernah ditanya tentang bacaan ma’mum
dalam shalat bersama Imam , beliau mengatakn : Diamlah ! Karena
sesungguhnya dalam shalat merupakan kesibukan maka cukup bagimu bacaan
Imam . [2]Mazhab Maliki
Imam Ibnu Abdil Barr (W. 463 H) dalam kitabnya Al Kaafi fi fiqhi Ahli al Madinah dari kalangan Malikiyah mengatakan :
والقراءة في الصلاة كلها في الجهر ساقطة
عنه وفي صلاة السر تستحب له وليست عند مالك بواجبة عليه وغيره يوجب فاتحة
الكتاب عليه في ذلك والإمام يؤتم به في كل حالاته ما لم يكن ساهيا أو
مفسدا لصلاته.
Adapun terkait bacaan dalam shalat Al Jahr ( Shubuh , Maghrib dan Isya) maka hal itu tergugurkan karena bacaan Imam , adapun bacaan dalam shalat As Sirr (Zhuhur dan Ashar) hal itu merupakan Mustahab bagi ma’mum dan bukan wajib sebagaiamana dalam mazhab Maliki , adapun yang lainnya mewajibkan membaca Al Fatihah dalam hal tersebut (Shalat As Sirr)
. Dan Imam Shalat harus selalu diikuti dalam setiap ahwalnya kecuali
dalam keadaan lupa atau dalam hal yang dapat merusak shalatnya . [3]Imam Al Qaraafi (W. 684 H) dalam kitabnya Adz Zakhiiroh dari kalangan Malikiyah mengatakan :
وَفِي الْجَوَاهِرِ لَا تَجِبُ عَلَى
الْمَأْمُومِ وَتُسْتَحَبُّ فِي السِّرِّ دُونَ الْجَهْرِ وَقَالَ ابْنُ
وَهْبٍ وَأَشْهَبُ لَا يَقْرَؤُهَا فِيهِمَا قَالَ صَاحِبُ الطَّرَّازِ
لَا تَجِبُ الْقِرَاءَةُ عَلَى الْمَأْمُومِ عَلَى الْإِطْلَاقِ عِنْدَ
مَالِكٍ وَ (ح) وَقَالَ (ش) تَجِبُ الْفَاتِحَةُ عَلَيْهِ لِعُمُومِ
النُّصُوصِ
Dalam Kitab Al Jawaahir bahwasanya tidak diwajibkan bagi
seorang ma’mum untuk membaca bacaan , adapun dalam shalat As sirr (
Zhuhur dan Ashar ) maka membaca bagi ma’mum itu mustahab dan dalam Shalat Al Jahr maka hal itu tidak mustahab
. Ibnu Wahb dan Asyhab berkata : Seorang ma’mum tidak membacanya dalam
ke dua shalat tersebut . Adapun dalam kitab Ath Tharraaz bahwa : dalam
Mazhab Malik , bahwa hal itu tidak diwajibkan bagi ma’mum secara
Muthlaq . Adapun Imam hanafi dan Syafi’i maka diharuskan untuk membaca
Al Fatihah sebagimana teks hadits secara umum . [4]Mazhab Syafi’i
Imam An Nawawi (W. 676 H) dalam kitabnya Al Majmu’ Syarh Al-Muhazzab mengatakan :
وأما المأموم فالمذهب الصحيح وجوبها عليه في كل ركعة في الصلاة السرية والجهرية: وقال الشافعي في القديم لا تجب عليه في الجهر
واحتج أصحابنا بقوله صلى الله عليه وسلم " لا صلاة لمن لم يقرأ بأم القرآن " رواه البخاري ومسلم
Adapun hukum bacaan untuk Ma’mum dalam Mazhab As Shahih adalah
diwajibkan baginya membaca dalam setiap rakaat shalat , baik itu dalam
Shalat As-Sirr ataupun dalam Shalat Al Jahr . [5]Ashhaab berdalilkan dari Hadits nabi “ Shalat itu tidak sah bagi yang tidak membaca Ummul qur’an (Al Fatihah) . HR. Buhari dan Muslim
Imam Zakariya Al Anshari (W. 926 H) dalam kitabnya Astna Al-mathalib Syarh Roudhoh Ath-thalib dari Kalangan Syafi’iyah mengatakan :
الرُّكْنُ (الرَّابِعُ قِرَاءَةُ
الْفَاتِحَةِ فِي قِيَامِ كُلِّ رَكْعَةٍ، أَوْ بَدَلِهِ) لِلْمُنْفَرِدِ
وَغَيْرِهِ فِي السِّرِّيَّةِ، وَالْجَهْرِيَّةِ حِفْظًا أَوْ تَلْقِينًا،
أَوْ نَظَرًا فِي مُصْحَفٍ، أَوْ نَحْوِهِ لِخَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ «لَا
صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ»
Rukun keempat : Membaca Al fatihah pada setiap rakaat sholat secara sendiri atau berjamaah dalam shalat Al-Sirr maupun shalat Al-Jahr , baik itu mengahafal , mentalqin maupun melihat dalam mushaf . Sebagaimana hadits Shahih “ Shalat itu tidak sah bagi yang tidak membaca Ummul qur’an (Al Fatihah) . HR. Buhari dan Muslim [6]Mazhab Hanbali
Ibnu Qudamah (W. 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni dari kalangan Hanabilah mengatakan :
مسألة: قال: والمأموم إذا سمع قراءة الإمام
فلا يقرأ بالحمد، ولا بغيرها، لقول الله تعالى: {وإذا قرئ القرآن
فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون} [الأعراف: 204]. و قال أحمد، ما سمعنا
أحدا من أهل الإسلام يقول: إن الإمام إذا جهر بالقراءة لا تجزئ صلاة من
خلفه إذا لم يقرأ.
Ma’mum tidak boleh membaca Al Fatihah dan surah lain jika ia
mendengar bacaan Imam , sebagaimana Firman Allah dalam surah Al A’raaf
ayat 204 : dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik,
dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.Dan Ahmad mengatakan : kami tidak pernah mendengar satu orang pun yang mengatakan bahwa : Sesungguhnya Imam shalat jika mengeraskan suaranya , maka ma’mum dibelakangnnya yang tidak membaca bacaan akan batal shalatnya . [7]
Imam Ibnu taymiyah (W. 728 H) dalam kitabnya Majmu Al Fataawa dari Kalangan hanabilah mengatakan :
وَأُصُولُ الْأَقْوَالِ ثَلَاثَةٌ: طَرَفَانِ، وَوَسَطٌ. فَأَحَدُ الطَّرَفَيْنِ أَنَّهُ لَا يَقْرَأُ خَلْفَ الْإِمَامِ بِحَالٍ.
وَالثَّانِي: أَنَّهُ يَقْرَأُ خَلْفَ الْإِمَامِ بِكُلِّ حَالٍ.
وَالثَّالِثُ: وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ
السَّلَفِ؛ أَنَّهُ إذَا سَمِعَ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ أَنْصَتَ، وَلَمْ
يَقْرَأْ، فَإِنَّ اسْتِمَاعَهُ لِقِرَاءَةِ الْإِمَامِ خَيْرٌ مِنْ
قِرَاءَتِهِ، وَإِذَا لَمْ يَسْمَعْ قِرَاءَتَهُ قَرَأَ لِنَفْسِهِ،
فَإِنَّ قِرَاءَتَهُ خَيْرٌ مِنْ سُكُوتِهِ، فَالِاسْتِمَاعُ لِقِرَاءَةِ
الْإِمَامِ أَفْضَلُ مِنْ الْقِرَاءَةِ، وَالْقِرَاءَةُ أَفْضَلُ مِنْ
السُّكُوتِ، هَذَا قَوْلُ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ كَمَالِكٍ وَأَحْمَدَ
بْنِ حَنْبَلٍ وَجُمْهُورِ أَصْحَابِهِمَا، وَطَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِ
الشَّافِعِيِّ، وَأَبِي حَنِيفَةَ، وَهُوَ الْقَوْلُ الْقَدِيمُ
لِلشَّافِعِيِّ، وَقَوْلُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ.
Adapun permasalahan dalam membaca di belakang imam , terdapat tiga pendapat dalam hal ini :
- Tidak membaca sama sekali
- Membaca nya dalam segala hal
- Tafshil (detail). Yaitu jika ia mendengar bacaan Imam maka ma’mum diam dan tidak membaca , karena mendengarkan bacaan imam itu lebih baik dari pada membaca , dan jika si ma’mun tidak mendengarkan bacaan imam maka ia harus membaca bacaan nya sendiri , karena membaca dalam hal ini lebih baik daripada diam . Ini merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan Imam Malik , Imam Ahmad , sebagian Ulama Syafiiyah , Abu Hanifah serta pendapat Syafi’i dalam qoul qodim dan pendapat Muhammad ibn Al Hasan .
Mazhab Adz Zhariyah
Ibnu Hazm Al Andalusi (W. 456 H) dalam kitabnya Al Muhallaa bi Al Atsaar dari kalangan dzahiriyah mengatakan bahwa :
مَسْأَلَةٌ: وَلَا يَجُوزُ لِلْمَأْمُومِ أَنْ يَقْرَأَ خَلْفَ الْإِمَامِ شَيْئًا غَيْرَ أُمِّ الْقُرْآنِ
Dan Tidak boleh bagi ma’mum membaca sedikit pun dari Al quran ketika di belakang imam . [8]Inilah sebagian pendapat Ulama dari Kalangan mazhab Hanafiah , Malikiyah , Syafi’iyah , Hanabilah serta Dzhahiriyah terkait masalah hukum membaca bacaan bagi Ma’mum di belakang Imam .
Semoga Bermanfaat .
Wallaahu Ta’alaa A’lam Bis Showaab .
[1] Imam Al Kasaani (W. 587 H) , Bada’i Ash Shana’i Fi Tartib Asy Syara’i , Juz 1 Hal 111
[2] Imam Al Kamal Ibnu Al Humaam (W. 861 H) , Fath Al Qadir li Al ‘Ajiz Al Faqir , Juz 1 , Hal 340 Bab Bacaan dalam shalat
[3] Imam Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) dalam kitabnya Al Kaafi fi fiqhi Ahli al Madinah , Juz 1 , hal 211 .
[4] Imam Al Qaraafi (w. 684 H) dalam kitabnya Adz Zakhiiroh Juz 2 Hal 184 .
[5] Imam An Nawawi (W. 676 H) dalam kitabnya Al Majmu’ Syarh Al-Muhazzab juz 3 hal 364-366 .
[6] Imam Zakariya Al Anshari (W. 926 H) dalam kitabnya Astna Al-mathalib Syarh Roudhoh Ath-thalib Juz 1 hal 149-150
[7] Ibnu Qudamah (W. 620 H) Al-Mughni , juz 1 , hal 403-404 .
[8] Ibnu Hazm Al Andalusi (W. 456 H) dalam kitabnya Al Muhallaa bi Al Atsaar , juz 2 , hal 266 .


