Jumat, 26 Mei 2017

Niat Puasa Ramadhan Setiap Malam atau Cukup Satu Kali Di Awal Ramadhan?


Suatu amalan yang dikerjakan seorang hamba itu terkait dengan niatnya , sebagaimana yang disabdakan oleh baginda Muhammad Shalahu alaihi wasallam dalam hadtsnya yang diriwayatkan oleh Amirul Mukminin Umar berikut ini :

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim)
Jika niat puasa wajib baru dimulai setelah terbit fajar Shubuh, maka puasanya tidaklah sah. Dalilnya adalah hadits dari Hafshoh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَنْ حَفْصَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ»
Dari Hafshah Ummul Mukminin ra. bahwa Nabi SAW bersabda, "Siapa yang tidak berniat puasa di malam hari sebelum fajar, tidak ada puasa untuknya. (HR. An Nasai no. 2333,  ٍ Sunan Ad Darimi no 1740)
Masalah yang seperti ini diistilahkan oleh para ulama dengan sebutan tabyitun-niyah. Atau dengan kata lain berniat sejak malam sebelum besok nya berpuasa .

Adapun Niat Berpuasa di Bulan Ramadhan , apakah niat Puasa tersebut setiap malam atau cukup sekali di awal ramadhan ?
Terkait hal ini Ulama berbeda pendapat , berikut beberapa pendapat Ulama Mazhab terkait hal ini .

Pendapat pertama : Niat Puasa Ramadhan harus Setiap Malam .
Ini merupakan pendapat mayoritas Ulama dari Mazhab Hanafiyah , Syafiiyah dan Hanabilah .
As-Sarakhsi (483 H) salah satu mazhab Hanafiyah menyebutkan dalam kitabnya Al-Mabsuth (3/60)  berikut ini :
أن صوم كل يوم عبادة على حدة ألا ترى أن فساد البعض لا يمنع صحة ما بقي وأنه يتخلل بين الأيام زمان لا يقبل الصوم، وهو الليل، وإن انعدمت الأهلية في بعض الأيام لا يمنع تقرر الأهلية فيما بقي فكانت بمنزلة صلوات مختلفة فيستدعي كل واحد منهما نية على حدة
Bahwa puasa tiap harinya merupakan satu ibadah yang berdiri sendiri. Bukankah batalnya sebagian itu tidak menghalangi bagian yang lain? Dan diantara har-hari itu terselip masa yang tidak boleh berpuasa yaitu malam. Bila hilang ahliyah pada sebagian hari tidak menghalangi ahliyah di bagian yang lain. Maka hari-hari puasa itu seperti shalat-shalat yang berbeda. Tiap satu hari puasa membutuhkan satu niat tersendiri .
An-Nawawi (w. 676 H) salah satu Ulama  dalam mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab (6/289) sebagai berikut :

تَجِبُ النِّيَّةُ كُلَّ يَوْمٍ سَوَاءٌ رَمَضَانُ وَغَيْرُهُ وَهَذَا لَا خِلَافَ فِيهِ عِنْدَنَا فَلَوْ نَوَى فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صَوْمَ الشَّهْرِ كُلِّهِ لَمْ تَصِحَّ هَذِهِ النِّيَّةُ لِغَيْرِ الْيَوْمِ الْأَوَّلِ

Wajib niat untuk tiap-tiap hari, baik Ramadhan atau lainnya. Tidak ada perbedaan pendapat dalam mazhab kami. Bila seseorang berniat di awal malam Ramadhan untuk puasa sebulan penuh, niatnya tidak sah kecuali hanya untuk niat malam pertama saja .
Ibnu Hajar Al-Haytami (974 H)  dari kalangan Syafiiyah dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj menyebutkan :

ويشترط لفرضه التبييت
Dan disyaratkan “ At-Tabyitu “ (niat di malam hari sebelum puasa) karena puasa Fardhu .


Ibnu Quddamah (620 H) dari kalangan Hanabilah menyebutkan dalam kitabnya Al-Mughni (3/111) bahwa :
ولنا. أنه صوم واجب، فوجب أن ينوي كل يوم من ليلته،
Dalam Mazhab kami, bahwa Puasa Ramadhan itu puasa wajib , maka wajib untuk berniat pada malam harinya .

Al-Mardawi (885 H) dari kalangan Hanabilah menyebutkan dalam kitabnya Al-Inshaf fi ma’rifati Ar-rajih min al-Khilaf (3/295)
يعتبر لكل يوم نية مفردة.
Yang terpenting ialah niat khusus pada setiap malam hari . 


Pendapat Kedua :
Cukup Satu Kali Di Awal Ramadhan .
Ini merupakan pendapat Ulama Malikiyah diantaranya :

Ibnu Abdil Barr ((w. 463 H) menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah sebagai berikut :
فتجزئه النية في أول ذلك كله دون تجديد نية لكل ليلة منه عند مالك
Dibolehkan niat pada awalnya saja tanpa harus memperbaharui niat pada tiap malamnya menurut Imam Malik.


Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Sabtu, 02 Mei 2015



Hukum Bersetubuh Pada Siang Hari Bulan Ramadhan Dalam Keadaan Lupa
 
Sudah menjadi fitrah bagi manusia sejak zaman nabi Adam as. yang diciptakan berpasang-pasangan untuk saling melengkapi satu sama lain khususnya dalam membangun mahligai rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah . Karena hal tersebut memang telah dijelaskan oleh Allah Swt dengan firmannya dalam surah Ar-Rum ayat 21 :
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ } [الروم: 21[
Artinya : 21. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Dan merupakan hal yang mendukung terciptanya keluarga yang sakinah ialah adanya keharmonisan keluarga khususnya dalam hubungan langsung antara suami dan istri .
Mengingat bulan Ramadhan yang tinggal menghitung hari, maka pentingnya kita tuk membahas beberapa permasalahan terkait bulan ramadhan itu sendiri . Khususnya permasalahan Jima’ antara suami dan istri di bulan suci ramadhan dalam keadaan lupa . Lupa ?? Waah memang ada juga yah bersetubuh dalam keadaan lupa dalam bulansuci ramadhan ? Apa perkataan ulama terkait hal ini ?
Yang perlu kita ketahui bahwa  bersetubuh di malam hari bulan Ramadhan itu mubah, dan malam dimulai dengan terbenam matahari sampai terbit fajar. Sebagaimana Firman Allah dalam Alqur’an Surah Al-Baqarah ayat 187:
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ (سورة البقرة: 187(
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187)
Selanjutnya, apa perkataan ulama terkait seseorang yang bersetubuh di siang hari bulan ramadhan dalam keadaan lupa ?
A.    Mazhab Hanafiyah
Imam Ibnu Al-Humam (861 H) dari kalangan Hanafiah menyebutkan dalam Kitabnya Fath Al-Qadir terkait hal ini bahwasanya jika seseorang bersetubuh dengan istrinya dalam keadaaan lupa dan seketika ingat saat itu dan berhenti dari perbuatannya itu maka tidak membatalkan puasanya, tetapi apabila ia ingat dan tetap melanjutkan perbuatannya maka ia harus mengqadha puasanya tersebut :
ولو بدأ بالجماع ناسيا فتذكر إن نزع من ساعته لم يفطر وإن دام على ذلك حتى أنزل فعليه القضاء، ثم قيل: لا كفارة عليه وقيل: هذا إذا لم يحرك نفسه بعد التذكر حتى أنزل، فإن حرك نفسه بعده فعليه الكفارة، كما لو نزع ثم أدخل [1]
          Az-Zayla’i (743 H) juga dari kalangan Hanafiyah menyebutkan dalam kitabnya Tabyiin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq       dalam bab hal yang merusak puasa dan yang tidak bahwasanya jika seseorang berpuasa kemudian makan, minum dan bersetubuh dalam keadaan lupa maka hal tersebut tidak membatalkan puasanyan :
(باب ما يفسد الصوم وما لا يفسده).                
قال - رحمه الله - (فإن أكل الصائم أو شرب أو جامع ناسيا أو احتلم أو أنزل بنظر أو ادهن أو احتجم أو اكتحل أو قبل أو دخل حلقه غبار أو ذباب وهو ذاكر لصومه أو أكل ما بين أسنانه أو قاء وعاد لم يفطر)[2]

B.     Mazhab Maliki

Ibnu Abdil Barr (463 H) dari kalangan Malikiyah menyebutkan dalam kitabnya Al-Kaafi Fi Fiqhi Ahli Al-Madinah bahwasanya jika seseorang makan, minum dan bersetubuh dalam keadaan lupa maka tidak ada baginya pilihan kecuali mengqadha puasanta tersebut :
ومن أكل أو شرب أو جامع ناسيا أو مجتهدا متأولا في نهار رمضان فليس عليه إلا القضاء وكذلك كل صوم واجب وان كان متطوعا فلا شيء عليه. [3]

C.    Mazhab Syafi’i
Imam An-Nawawi (676 H) dari kalangan Syafi’iyah menyebutkan dalam dua  kitabnya Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab dan Raudhoh At-Tholibin wa Umdah Al-Muftin terkait hal ini bahwa bersetubuh dalam keadaan lupa bahwa ia sedang berpuasa tidak membatalkan puasanya, dan ini merupakan pendapat resmi dalam mazhab kami sebagaimana dalam kitabnya :
إذا أكل أو شرب أو تقايأ أو استعط أو جامع أو فعل غير ذلك من منافيات الصوم ناسيا لم يفطر عندنا سواء قل ذلك أم كثر هذا هو المذهب والمنصوص وبه قطع المصنف والجمهور من العراقيين وغيرهم وذكر الخراسانيون في أكل الناسي إذا كثر وجهين ككلام الناسي في الصلاة[4]
ولو جامع ناسيا، لم يفطر على المذهب. [5]
Zakaria Al-Anshari (926 H) dari kalangan Syafi’iyah menyebutkan dalam kitabnya Asna Al-Matahlib fi Syarhi Raudh At-Thalib bahwa salah satu hal yang tidak membatalkan puasa ialah seseorang yang bersetubuh dalam keadaan lupa, beliau mengqiyaskan hal tersebut dengan orang yang makan dalam keadaan lupa .
 (ولا يفطر الناسي) للصوم (و) لا (الجاهل) بتحريم ما فعله وبكونه مفطرا (المعذور) بأن قرب عهده بالإسلام أو نشأ ببادية بعيدة عن العلماء (بالأكل ولو كثر) لعموم خبر الصحيحين «من نسي وهو صائم فأكل أو شرب فليتم صومه فإنما أطعمه الله وسقاه» في رواية صححها ابن حبان وغيره ولا قضاء عليه وفارق الصلاة بأن لها هيئة تذكر المصلي أنه فيها فيندر ذلك فيها بخلاف الصوم (ولا بالجماع) قياسا على الأكل  . [6]

D.    Mazhab Hanbali  
Ibnu Qudamah (620 H) dari kalangan Hanabilah menyebutkan dalam kitabnya Al-Mughni bahwa pendapat dalam mazhab kami terkait seseorang yang bersetubuh dalam keadaan lupa sama dengan orang yang melakukannya secara sengaja .
المسألة الرابعة، أنه جامع ناسيا، فظاهر المذهب أنه كالعامد. نص عليه أحمد [7]
Al-Mardawi (885 H) juga dari kalangan Hanabilah mengatakan bahwa barang siapa yang bersetubuh dengan istrinya pada siang hari bulan ramadhan maka harus baginya mengganti puasanya dan membayar kaffarat baik dalam keadaan sengaja ataupun tidak disengaja (lupa)
قوله (وإذا جامع في نهار رمضان في الفرج، قبلا كان أو دبرا) يعني بفرج أصلي في فرج أصلي (فعليه القضاء والكفارة، عامدا كان أو ساهيا) .[8]

E.     Mazhab Dzhahiri
Ibnu Hazm Al-Andalusi (456 H) yang merupakan pembaharu mazhab tersebut menyebutkan dalam kitabnya Al-Muhalla Bi Al-Atsar bahwsa bersetubuh dalam keadaan lupa tidak membatalkan wudhu sebagaimana makan dalam keadaan lupa :
ورأى الجماع ناسيا لا يبطل الصوم، قياسا على الأكل، ولم يقس الآكل نائما على الآكل ناسيا؛ [9]

Seperti itulah penjelasan beberapa Ulama terkait hukum seseorang yang bersetubuh dengan istrinya pada siang hari bulan ramadhan dalam keadaan lupa .
Wallahu A’lam Bi Sshowab . 














[1] Imam Ibnu Al-Humam (861 H) , Fath Al-Qadir , juz 2 hal 328 .
[2] Az-Zayla’i (743 H) , Tabyiin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, juz 1 hal 322
[3] Ibnu Abdil Barr (463 H) , Al-Kaafi Fi Fiqhi Ahli Al-Madinah , juz 1 hal 341
[4] Imam An-Nawawi (676 H), Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab, juz 6 hal 324
[5] Imam An-Nawawi (676 H), Raudhoh At-Tholibin wa Umdah Al-Muftin , juz 2 hal 363
[6] Zakaria Al-Anshari (926 H), Asna Al-Matahlib fi Syarhi Raudh At-Thalib, juz 1 hal 417
[7] Ibnu Qudamah (620 H) , Al-Mughni , Juz 3 , Hal 135 .
[8] Al-Mardawi (885 H) , Al-Inshaf Fi Ma’rifati Ar-Rajih Minal Khilaf , juz 3 hal 311
[9] Ibnu Hazm Al-Andalusi (456 H) , Al-Muhalla Bi Al-Atsar , Juz 4 , Hal 358

Sabtu, 18 April 2015



Apa hukum mengusap kepala secara keseluruhan?



Ketika kita hendak mengerjakan shalat, maka diwajibkan untuk berwudhu terlebih dahulu karena dengan berwudhu maka akan membersihkan kotoran dan membersihkan dari najis yang ada di tubuh kita, sehingga dapat mengerjakan shalat dalam keadaan suci .
Dalam hal wudhu, para ulama telah sepakat bahwa membasuh muka, membasuh kedua tangan, mengusap kepala dan membasuh kedua kaki adalah fardhu hukumnya, atau merupakan rukun dari berwudhu itu sendiri. Dan terkait pembahasan kali ini kita akan membahas terkait mengusap kepala secara keseluruhan atau cukup sebagian saja.
Sebagaimana firmal Allah SWT yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرافِقِ وَامْسَحُوا بِرُؤُسِكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu.(QS. Al-Maidah : 6)
Juga berlandaskan pada hadits riwayat Utsman bin Al-Affan radhiyallahunahu tentang sifat wudhu nabi dengan redaksi hadits:
ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ
Kemudian nabi mengusap kepalanya. (HR. Bukhari)
Pertanyannya sekarang, apa hukum mengusap kepala secara keseluruhan? Bolehkah mengusap sebagiannya saja?ataukah tidak? Permasalahan ini telah dibahas oleh beberapa Ulama terdahulu, dan terkait hal ini, mereka berbeda pendapat apakah mengusap seluruhnya atau cukup sebagiannya saja?

1.      Mazhab Hanafi


  • ·         Imam Al Kasaani (w. 587 H) dari kalangan hanafiah menyebutkan dalam Kitabnya Bada’i As-Shana’i Fi Tartib As-Syarai’ bahwasanya :

فَكَانَ الْمُرَادُ مِنْ الْمَسْحِ بِالرَّأْسِ مِقْدَارَ النَّاصِيَةِ
“Yang dimaksud mengusap kepala ialah cuku dengan mengusap ubun-ubun”.[1]

  • ·         Imam Az-Zailai’ (w. 743 H) dari kalangan hanafiah menyebutkan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq fi Syarhi kanz Ad-daqaiq bahwasanya:
(وَمَسْحُ رُبْعِ رَأْسِهِ) لِحَدِيثِ الْمُغِيرَةِ «أَنَّهُ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - مَسَحَ عَلَى نَاصِيَتِهِ» وَهِيَ الرُّبْعُ
“Kemudian mengusap seperempat bagian kepala, berdasarkan hadist dari Mughirah, bahwasanya nabi mengusap ubun-ubunnya. Yang dimaksud disini ialah seperempat[2]

  • ·         Ibnul Humam (w. 861 H) dari kalangan hanafiah menyebutkan dalam kitabnya Fathul qadir bahwasanya:
وَظَاهِرُهُ اسْتِيعَابُ تَمَامِ الْمُقَدَّمِ، وَتَمَامُ مُقَدَّمِ الرَّأْسِ هُوَ الرُّبْعُ الْمُسَمَّى بِالنَّاصِيَةِ.
“Pendapat yang kuat mengenai hal ini ialah mengusap bagian depan kepala, dan bagian depan yang dimaksud ialah seperempat kepala yang disebut nashiyah (ubun-ubun)” [3]

2.      Mazhab Maliki

  • ·         Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) dari kalangan hanafiah mengatakan dalam kitab Al-kafi Fi Fiqhi Ahli Al-Madinah bahwsanya :
واختلف أصحاب مالك وسائر أهل المدينة في عموم مسح الرأس فمنهم من قال: لا يجزئ مسح بعض الرأس وهو قول مالك المشهور
“Dalam pemaparannya beliau menyebutkan pendapat masyhur Imam Malik bahwa yang wajib diusap ialah seluruh bagian kepala” [4]

  • ·         Al-Qarafi (w. 684 H) dari kalangan hanafiah menyebutkan dalam kitab Adz-Dzakhirah bahwasanya:
الْفَرْضُ الْخَامِسُ مَسْحُ جَمِيعِ الرَّأْسِ فِي الْكِتَابِ يَمْسَحُ الرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ عَلَى الرَّأْسِ كُلِّهِ
“Fardhu yang kelima ialah mengusap seluruh bagian kepala baik laki-laki ataupun perempuan” [5]


3.     Mazhab Syafi’i 

  • ·         Imam An-Nawawi (w. 676 H) dari kalangan Syafi’iyah mengatakan dalam kitabnya Raudhah at-thalibin wa umdatu al-muftiin bahwasanya:
الْعَاشِرَةُ: اسْتِيعَابُ الرَّأْسِ بِالْمَسْحِ.
“Diantara sunah wudhu yang kesepuluh ialah: mengusap seluruh bagian kepala”[6]
 
  • ·        Zakariya Al-Anshari (w. 926 H) dari kalangan Syafi’iyah, penulis kitab Asnal Mathalib Syarh Raudh At-Thalib mengatakan bahwa :
مِنْهَا (اسْتِيعَابُ مَسْحِ الرَّأْسِ)
“Beliau juga menyebutkan bahwa diantara sunah wudhu ialah mengusap seluruh bagian kepala , sebagamana pendapat Imam An-Nawawi diatas” [7]

  • ·         Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H) dalam kitab Al-Minhaj Al-Qawim menyebutkan sebagaimana pendapat ulama sebelumnya dari kalangan Syafi’iyah :
ومسح جميع الرأس
“Diantara sunah wudhu ialah mengusap seluruh bagian kepala” [8]


4.      Mazhab Hanbali

  • ·         Ibnu Qudamah (w. 620 H) dari kalangan hanabilah menyebutkan di dalam kitab Al-Mughni bahwasanya :
مسألة: قال: ومسح الرأس لا خلاف في وجوب مسح الرأس، وقد نص الله تعالى عليه بقوله {وامسحوا برءوسكم} [المائدة: 6] واختلف في قدر الواجب؛ فروي عن أحمد وجوب مسح جميعه في حق كل أحد. وهو ظاهر كلام الخرقي ومذهب مالك وروي عن أحمد يجزئ مسح بعضه.
“Hukum mengusap kepala adalah wajib sebagaimana dalam surah Al-Maidah:6 . adapun terkait mengusap secara keseluruhan , maka terdapat beberapa pendapat, yaitu: Diriwayatkan dari Ahmad bahwa wajib mengusap seluruh bagian kepala, sebagaimana pendapat Al-khiraqi dan Mazhab Maliki , dan disisi lain, diriwayatkan juga dari Ahmad bahwa boleh mengusap sebagian kepala.”[9]

  • ·         Ibnu Taimiyah (w. 728 H) menyebutkan dalam kitabnya Al-Fatawa Al-Kubra bahwasanya:
الْحَمْدُ لِلَّهِ، اتَّفَقَ الْأَئِمَّةُ كُلُّهُمْ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ مَسْحُ جَمِيعِ الرَّأْسِ، كَمَا ثَبَتَ فِي الْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ
وَذَهَبَ آخَرُونَ إلَى وُجُوبِ مَسْحِ جَمِيعِهِ، وَهُوَ الْمَشْهُورُ مِنْ مَذْهَبِ مَالِكٍ، وَأَحْمَدَ. وَهَذَا الْقَوْلُ هُوَ الصَّحِيحُ،
“Para Imam menyepakati bahwa yang menjadi sunah ialah mengusap seluruh bagian kepala sebagaimana dalam beberapa hadits-hadits shahih . Sedangkan ulama yang lain diantaranya Imam Malik dan Ahmad mewajibkan mengusap seluruh nya, dan inilah pendapat yang shahih[10]

5.      Madzhab Adz-Dzahiri

  • ·         Ibnu Hazm (w. 456 H) berpendapat di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsar bahwasanya:
وَأَمَّا الِاقْتِصَارُ عَلَى بَعْضِ الرَّأْسِ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: {وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ} [المائدة: 6] وَالْمَسْحُ فِي اللُّغَةِ الَّتِي نَزَلَ بِهَا الْقُرْآنُ هُوَ غَيْرُ الْغُسْلِ بِلَا خِلَافٍ، وَالْغُسْلُ يَقْتَضِي الِاسْتِيعَابَ وَالْمَسْحُ لَا يَقْتَضِيهِ
“Adapun dalam mencukupkan dengan mengusap sebagian kepala dalam wudhu, maka Ibnu Hazm menyebutkan bahwa kalimat “mengusap” berbeda dengan “membasuh” tanpa ada pertentangan, dan membasuh itu mencakup keseluruhan adapun mengusap maka tidak harus secara keseluruhan” [11]

Inilah pendapat para Ulama dalam tiap-tiap mazhab perihal mengusap kepala, apakah harus mengusap secara keseluruhan atau cukup mengusap sebagian saja?

Wallahu ‘alam







[1] Imam Al Kasaani (587 H), Bada’i As-Shana’i Fi Tartib As-Syarai’ , Juz 1 hal. 5
[2] Imam Az-Zailai’ (743 H), Tabyin Al-Haqaiq fi Syarhi kanz Ad-daqaiq, Juz 1 hal. 3
[3] Ibnul Humam (861 h), Fathul Qadir, jilid 1 hal. 18
[4] Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), Al-kafi Fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, Juz 1 hal. 169
[5] Al-Qarafi (w. 684 H), Adz-Dzakhirah, jilid 1 hal. 259
[6] Imam An-Nawawi (w. 676 H), Raudhah at-thalibin wa umdatu al-muftiin, Juz 1 hal 60
[7] Zakariya Al-Anshari (w. 926 H),  Asnal Mathalib Syarh Raudh At-Thalib, Juz 1 hal 40
[8] Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), Al-Minhaj Al-Qawim, juz 1 hal. 28
[9] Ibnu Qudamah (w. 620 H), Al-Mughni, juz 1 hal. 92-93
[10] Ibnu Taimiyah (w. 728 H), Al-Fatawa Al-Kubra,  juz 1 hal. 276
[11] Ibnu Hazm (w. 456 H), Al-Muhalla bil Atsar, Juz 1 hal. 298