Hukum Bersetubuh Pada Siang Hari Bulan Ramadhan Dalam Keadaan Lupa
Sudah menjadi
fitrah bagi manusia sejak zaman nabi Adam as. yang diciptakan
berpasang-pasangan untuk saling melengkapi satu sama lain khususnya dalam
membangun mahligai rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah . Karena hal
tersebut memang telah dijelaskan oleh Allah Swt dengan firmannya dalam surah
Ar-Rum ayat 21 :
وَمِنْ آيَاتِهِ
أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ
بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
} [الروم: 21[
Artinya : 21. dan di antara
tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Dan merupakan
hal yang mendukung terciptanya keluarga yang sakinah ialah adanya keharmonisan
keluarga khususnya dalam hubungan langsung antara suami dan istri .
Mengingat bulan
Ramadhan yang tinggal menghitung hari, maka pentingnya kita tuk membahas
beberapa permasalahan terkait bulan ramadhan itu sendiri . Khususnya
permasalahan Jima’ antara suami dan istri di bulan suci ramadhan dalam keadaan
lupa . Lupa ?? Waah memang ada juga yah bersetubuh dalam keadaan lupa dalam
bulansuci ramadhan ? Apa perkataan ulama terkait hal ini ?
Yang perlu kita ketahui bahwa bersetubuh di malam hari bulan Ramadhan itu
mubah, dan malam dimulai dengan terbenam matahari sampai terbit fajar.
Sebagaimana Firman Allah dalam Alqur’an Surah Al-Baqarah ayat 187:
أُحِلَّ
لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ
وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ
أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ
وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ
لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ
أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ (سورة البقرة: 187(
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa
bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun
adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat
menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu.
Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah
untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang
hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.”
(QS. Al-Baqarah: 187)
Selanjutnya, apa perkataan ulama
terkait seseorang yang bersetubuh di siang hari bulan ramadhan dalam keadaan
lupa ?
A. Mazhab
Hanafiyah
Imam Ibnu Al-Humam (861 H)
dari kalangan Hanafiah menyebutkan dalam Kitabnya Fath Al-Qadir
terkait hal ini bahwasanya jika seseorang bersetubuh dengan istrinya dalam
keadaaan lupa dan seketika ingat saat itu dan berhenti dari perbuatannya itu
maka tidak membatalkan puasanya, tetapi apabila ia ingat dan tetap melanjutkan
perbuatannya maka ia harus mengqadha puasanya tersebut :
ولو بدأ بالجماع ناسيا فتذكر إن نزع من ساعته لم
يفطر وإن دام على ذلك حتى أنزل فعليه القضاء، ثم قيل: لا كفارة عليه وقيل: هذا إذا
لم يحرك نفسه بعد التذكر حتى أنزل، فإن حرك نفسه بعده فعليه الكفارة، كما لو نزع
ثم أدخل [1]
Az-Zayla’i
(743 H) juga dari kalangan Hanafiyah
menyebutkan dalam kitabnya Tabyiin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq dalam bab hal yang merusak puasa dan yang
tidak bahwasanya jika seseorang berpuasa kemudian makan, minum dan bersetubuh
dalam keadaan lupa maka hal tersebut tidak membatalkan puasanyan :
(باب ما يفسد الصوم وما لا يفسده).
قال
- رحمه الله - (فإن أكل الصائم أو شرب أو جامع ناسيا أو احتلم أو أنزل بنظر أو
ادهن أو احتجم أو اكتحل أو قبل أو دخل حلقه غبار أو ذباب وهو ذاكر لصومه أو أكل ما
بين أسنانه أو قاء وعاد لم يفطر)[2]
B.
Mazhab
Maliki
Ibnu Abdil Barr (463 H)
dari kalangan Malikiyah menyebutkan dalam kitabnya Al-Kaafi Fi Fiqhi
Ahli Al-Madinah bahwasanya jika seseorang makan, minum dan bersetubuh dalam
keadaan lupa maka tidak ada baginya pilihan kecuali mengqadha puasanta tersebut
:
ومن أكل أو شرب أو جامع ناسيا أو مجتهدا متأولا في
نهار رمضان فليس عليه إلا القضاء وكذلك كل صوم واجب وان كان متطوعا فلا شيء عليه. [3]
C.
Mazhab Syafi’i
Imam
An-Nawawi (676 H) dari kalangan
Syafi’iyah menyebutkan dalam dua kitabnya Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab
dan Raudhoh At-Tholibin wa Umdah Al-Muftin terkait hal ini bahwa
bersetubuh dalam keadaan lupa bahwa ia sedang berpuasa tidak membatalkan
puasanya, dan ini merupakan pendapat resmi dalam mazhab kami sebagaimana dalam
kitabnya :
إذا أكل أو شرب أو تقايأ أو استعط أو جامع أو فعل غير
ذلك من منافيات الصوم ناسيا لم يفطر عندنا سواء قل ذلك أم كثر هذا هو المذهب والمنصوص
وبه قطع المصنف والجمهور من العراقيين وغيرهم وذكر الخراسانيون في أكل الناسي إذا كثر
وجهين ككلام الناسي في الصلاة[4]
Zakaria
Al-Anshari (926 H) dari kalangan Syafi’iyah menyebutkan dalam kitabnya Asna
Al-Matahlib fi Syarhi Raudh At-Thalib bahwa salah satu hal yang tidak
membatalkan puasa ialah seseorang yang bersetubuh dalam keadaan lupa, beliau
mengqiyaskan hal tersebut dengan orang yang makan dalam keadaan lupa .
(ولا يفطر الناسي) للصوم (و) لا
(الجاهل) بتحريم ما فعله وبكونه مفطرا (المعذور) بأن قرب عهده بالإسلام أو نشأ ببادية
بعيدة عن العلماء (بالأكل ولو كثر) لعموم خبر الصحيحين «من نسي وهو صائم فأكل أو شرب
فليتم صومه فإنما أطعمه الله وسقاه» في رواية صححها ابن حبان وغيره ولا قضاء عليه وفارق
الصلاة بأن لها هيئة تذكر المصلي أنه فيها فيندر ذلك فيها بخلاف الصوم (ولا بالجماع)
قياسا على الأكل . [6]
D.
Mazhab Hanbali
Ibnu Qudamah (620 H) dari
kalangan Hanabilah menyebutkan dalam kitabnya Al-Mughni bahwa pendapat
dalam mazhab kami terkait seseorang yang bersetubuh dalam keadaan lupa sama
dengan orang yang melakukannya secara sengaja .
Al-Mardawi (885 H) juga dari kalangan Hanabilah mengatakan bahwa barang siapa yang
bersetubuh dengan istrinya pada siang hari bulan ramadhan maka harus baginya
mengganti puasanya dan membayar kaffarat baik dalam keadaan sengaja ataupun
tidak disengaja (lupa)
قوله (وإذا جامع في نهار رمضان في الفرج، قبلا كان
أو دبرا) يعني بفرج أصلي في فرج أصلي (فعليه القضاء والكفارة، عامدا كان أو ساهيا)
.[8]
E.
Mazhab Dzhahiri
Ibnu Hazm Al-Andalusi (456 H)
yang merupakan pembaharu mazhab tersebut menyebutkan dalam kitabnya Al-Muhalla
Bi Al-Atsar bahwsa bersetubuh dalam keadaan lupa tidak membatalkan wudhu
sebagaimana makan dalam keadaan lupa :
Seperti
itulah penjelasan beberapa Ulama terkait hukum seseorang yang bersetubuh dengan
istrinya pada siang hari bulan ramadhan dalam keadaan lupa .
Wallahu
A’lam Bi Sshowab .
[1] Imam
Ibnu Al-Humam (861 H) , Fath Al-Qadir , juz 2 hal 328 .
[2] Az-Zayla’i
(743 H) , Tabyiin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, juz 1 hal 322
[3] Ibnu
Abdil Barr (463 H) , Al-Kaafi Fi Fiqhi Ahli Al-Madinah , juz 1 hal
341
[4] Imam
An-Nawawi (676 H), Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab, juz 6 hal 324
[5] Imam
An-Nawawi (676 H), Raudhoh At-Tholibin wa Umdah Al-Muftin , juz 2
hal 363
[6] Zakaria
Al-Anshari (926 H), Asna Al-Matahlib fi Syarhi Raudh At-Thalib, juz
1 hal 417
[7] Ibnu
Qudamah (620 H) , Al-Mughni , Juz 3 , Hal 135 .
[9] Ibnu
Hazm Al-Andalusi (456 H) , Al-Muhalla Bi Al-Atsar , Juz 4 , Hal 358

Tidak ada komentar:
Posting Komentar