Menuju rumah Pak Wamenag
Sore itu, sepulangku dari TPA Ar Rihard yang berjarak sekitar
100 meter dari kediamanku, dan memang menjadi rutinitas bagiku di sore hari,
segera ku rebahkan badan ku tepat depan rumah diatas kursi bambu seraya
memikirkan/mereview sejenak apa yang telah dan apalagi yang harus saya lakukan
setelah ini .
Matahari mulai tenggelam, menandakan bahwa sebentar lagi akan
terdengar seruan adzan maghrib, saya pun bersiap menuju salah satu musholla
dekat rumah, namun anehnya saat itu saya berpikir ingin mencari suatu masjid
yang cukup jauh dari kediaman ku, selain karena memang agak sedikit bosan
dengan suasana musholla dekat rumah, juga karena saya ingin mencari suasana
baru, ingin berinteraksi dengan masyrakat lebih luas lagi .
Teringat di benakku tentang masjid berwarna kuning tepat
sebelum jalan raya ampera Jak-sel yang pernah kulihat, segera ku melangkah
menuju tempat tersebut, berharap mendapatkan suasana yang lebih baru, fresh dan
bisa sedikit menghibur bagi saya pribadi, dan benar saja, tatkala saya masuk
mesjid kurasakan sebuah hal yang tidak saya dapatkan di musholla samping rumah
saya (Penulis sama sekali tidak berpolemik tentang suasana musholla dekat
rumah, karena semuanya ialah baitullah) .
Suasana fresh kurasakan tatkala saya baru saja masuk ke
ruangan masjid, maklum ada beberapa ac pendingan yang aktif, masjid seperti ini
yang saya cari di jakarta “gumamku dalam hati”, tat dapat dipungkiri memang
peranan lingkungan dalam menunjang suatu aktivitas, dalam hal ini
ibadah/penghambaan kepada zat yang maha suci Allah SWT.
Sebagaimana yang saya katakan sebelumnya bahwa saya sangat
suka berinteraksi dengan orang yang saya jumpai khususnya di masjid, maka saya
pun sempatkan berbincang sejenak dengan salah satu jamaah masjid (Masjid Baitul
Makmur) bernama pak Siswanto, karena saya memang belum terkenal (hahahaha mau
terkenal yaa??) maka mulailah kuperkenalkan diriku dan sedikit bertanya tentang
profile pak Siswanto ini, hingga beliau mengatakan bahwa di masjid baitul
makmur (tempat kami shalat tadi) selalu diisi kajian alqur’an setelah shalat
shubuh, bahkan pematerinya juga bukan orang sembarang dia adalah Wamenag Prof. Dr. Nasaruddin Umar MA. asli
putra sulawesi (setahu saya) , rasa penasaranku langsung menanjak bertambah setelah
mendengar kabar tersebut , sungguh saya sangat penasaran bagaimana sosok bapak
Wamenag tersebut . Tak sabar ingin bertemu beliau .
Tatkala saya berjalan menuju masjid baitul makmur di shubuh
hari , entah sengaja atau tidak , saya kembali bertemu dengan bapak yang
kemarin maghrib itu, keakraban kami berdua semakin terasa saat itu, kami pun
berjalan bersama menuju masjid . Seseorang dengan sorban menutupi kepala nya
duduk dengan khusyuk tepat di barisan pertama masjid itu, pak Siswanto berujar
kepadaku bahwa itulah Pak Prof. Nasaruddin Umar yang kami ceritkan semalam.
Beliau mengimami shalat shubuh pada hari itu dan melanjutkan
dengan kajian satu ayat yang memang menjadi kegiatan rutin di masjid setelah shubuh
, hari kian berlalu , shalat di masjid tersebut seakan sudah menjadi kebiasaan
bagiku , pernah suatu shubuh saya memberanikan diri tuk menghadap beliau,
sekedar tuk berbincang ringan
memperkenalkan diri saya kepadanya, saat itu langkah kupercepat guna
mengahampiri beliau yang mendahului ku,
“Assalamualaikum” tegurku dari belakang
“Waalaikumussalam” jawaban dari belaiu . Sempat ku terdiam
sebelum mengucapkan kata kata, namun berkat keramahan belaiu, saya pun mulai
memperkenalkan diri saya .
Kembali ku bertemu dengan salah satu staf pembantu di rumah
beliau ketiak saya bverjalanj menuju masjid pada sholat maghrib, dengan sedikit
pembicaraan bersamanya, beliau mengajak saya tuk datang ke rumah Pak Prof pada
malam jumat, memang setiap malam jumat selalu diadakan acara pembacaan alquran
oleh kalangan dari para perantau sulawesi yang berada di jakarta .
Tibalah malam jumat itu, sebleum berangkat, saya mengajak
teman di kontrakan tuk bersama ke rumah beliau, namun kebanyakan memiliki
kesibukan masing masing, kuputuskan tuk memanggil ketua Formalis(Forum
Komunikasi Mahasiswa Lipia se-Sulawesi)
walau sedikit gerimis, saya tetap melangkah menuju rumah beliau yang
memang tidak begitu jauh dari kontrakan ku .
Aktivitas di rumah Pak Prof pun dimulai dengan shalat
berjamaah, mengkhatamkan bacaan alquran, membaca yasin dan dilanjutkan dengan
shalat isya berjamaah , taklupa pula jamuan makan malam setelah shalat menjadi
agenda selanjutnya , keramhan serta kesopanan dari para hadirin membuat saya
merasa tenang berda di sana, khususnya istri beliau yang sangatlah ramah kepada
kami berdua, saya mengira istri beliau berasal dari sulawesi juga itu berka
keramahan yang ditunjukkkannya kepada kami layaknya sudah lama kenal .
Akhiranya , ketika jam menunjkkan pukul 09:30 pm, Pak Prof
pun datang seraya memberi sedikit pencerahan/nasehat kepada kami para perantau
yang berasal dari Sulawesi, ada satu perkataan yang saya ingat dari beliau
bahwa “Jangan pernah berhenti menjadi orang Sulawesi, tetaplah bangga menjadi
putra Sulawesi” , mengingat ini pertama kali kunjunganku ke rumah pak Wamenag,
maka hal tersebut saya gunakan dengan sebaik baiknya, juga dengan
memperkenalkan kepada beliau bahwa kami di Lipia mempunyai sebuah organisasi
bernama FORMALIS .
Singkat cerita, akhirnya, kehadiran di rumah beliau pada malam
jumat menjadi salah satu kegiatan rutin
kami bersama teman teman Formalis . Mengingat istri beliau sudah membuatkan
absensi kehadiran bagi para anggota Formalis .
Begitulah cerita saya bisa berkenalan dengan Pak Wamenag
Prof. Dr. Nazaruddin Umar MA.
Sekian dan Terima Kasih .