Selasa, 15 April 2014


Apa yang dimaksud dengan Masjidil Haram yang terdapat pada beberapa ayat dalam Alquran dan Hadits?
        Kalimat ‘Masjidil Haram’ memang terdapat dalam beberapa tempat dalam alquran dan hadits
Diantara ma’nanya sebagai berikut :
1.   Ka’bah . Sebagai mana firman Allah swt.
{ فول وجهك شطر المسجد الحرام  }  atau Ka’bah
2.   Masjid Seutuhnya . Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw : { لا تشد الرحال إلاإلى ثلاثة مساجد , منها : المسجد الحرام  }
3.   Makkah Al Mukarramah . Sebagaimana Firman Allah swt dalam Surah Al Isra’ ayat 1 .

4.   Daerah Haram seutuhnya {Makkah dan sekitarnya} Sebagaimana firman Allah swt dalam Surah At-taubah: 28 .

Sabtu, 05 April 2014

Menuju Rumah Pak Wamenag

Sore itu, sepulangku dari TPA Ar Rihard yang berjarak sekitar 100 meter dari kediamanku, dan memang menjadi rutinitas bagiku di sore hari, segera ku rebahkan badan ku tepat depan rumah diatas kursi bambu seraya memikirkan/mereview sejenak apa yang telah dan apalagi yang harus saya lakukan setelah ini .
Matahari mulai tenggelam, menandakan bahwa sebentar lagi akan terdengar seruan adzan maghrib, saya pun bersiap menuju salah satu musholla dekat rumah, namun anehnya saat itu saya berpikir ingin mencari suatu masjid yang cukup jauh dari kediaman ku, selain karena memang agak sedikit bosan dengan suasana musholla dekat rumah, juga karena saya ingin mencari suasana baru, ingin berinteraksi dengan masyrakat lebih luas lagi .
Teringat di benakku tentang masjid berwarna kuning tepat sebelum jalan raya ampera Jak-sel yang pernah kulihat, segera ku melangkah menuju tempat tersebut, berharap mendapatkan suasana yang lebih baru, fresh dan bisa sedikit menghibur bagi saya pribadi, dan benar saja, tatkala saya masuk mesjid kurasakan sebuah hal yang tidak saya dapatkan di musholla samping rumah saya (Penulis sama sekali tidak berpolemik tentang suasana musholla dekat rumah, karena semuanya ialah baitullah) .
Suasana fresh kurasakan tatkala saya baru saja masuk ke ruangan masjid, maklum ada beberapa ac pendingan yang aktif, masjid seperti ini yang saya cari di jakarta “gumamku dalam hati”, tat dapat dipungkiri memang peranan lingkungan dalam menunjang suatu aktivitas, dalam hal ini ibadah/penghambaan kepada zat yang maha suci Allah SWT.
Sebagaimana yang saya katakan sebelumnya bahwa saya sangat suka berinteraksi dengan orang yang saya jumpai khususnya di masjid, maka saya pun sempatkan berbincang sejenak dengan salah satu jamaah masjid (Masjid Baitul Makmur) bernama pak Siswanto, karena saya memang belum terkenal (hahahaha mau terkenal yaa??) maka mulailah kuperkenalkan diriku dan sedikit bertanya tentang profile pak Siswanto ini, hingga beliau mengatakan bahwa di masjid baitul makmur (tempat kami shalat tadi) selalu diisi kajian alqur’an setelah shalat shubuh, bahkan pematerinya juga bukan orang sembarang dia adalah  Wamenag Prof. Dr. Nasaruddin Umar MA. asli putra sulawesi (setahu saya) , rasa penasaranku langsung menanjak bertambah setelah mendengar kabar tersebut , sungguh saya sangat penasaran bagaimana sosok bapak Wamenag tersebut . Tak sabar ingin bertemu beliau .
Tatkala saya berjalan menuju masjid baitul makmur di shubuh hari , entah sengaja atau tidak , saya kembali bertemu dengan bapak yang kemarin maghrib itu, keakraban kami berdua semakin terasa saat itu, kami pun berjalan bersama menuju masjid . Seseorang dengan sorban menutupi kepala nya duduk dengan khusyuk tepat di barisan pertama masjid itu, pak Siswanto berujar kepadaku bahwa itulah Pak Prof. Nasaruddin Umar yang kami ceritkan semalam.
Beliau mengimami shalat shubuh pada hari itu dan melanjutkan dengan kajian satu ayat yang memang menjadi kegiatan rutin di masjid setelah shubuh , hari kian berlalu , shalat di masjid tersebut seakan sudah menjadi kebiasaan bagiku , pernah suatu shubuh saya memberanikan diri tuk menghadap beliau, sekedar  tuk berbincang ringan memperkenalkan diri saya kepadanya, saat itu langkah kupercepat guna mengahampiri beliau yang mendahului ku,
“Assalamualaikum” tegurku dari belakang
“Waalaikumussalam” jawaban dari belaiu . Sempat ku terdiam sebelum mengucapkan kata kata, namun berkat keramahan belaiu, saya pun mulai memperkenalkan diri saya .
Kembali ku bertemu dengan salah satu staf pembantu di rumah beliau ketiak saya bverjalanj menuju masjid pada sholat maghrib, dengan sedikit pembicaraan bersamanya, beliau mengajak saya tuk datang ke rumah Pak Prof pada malam jumat, memang setiap malam jumat selalu diadakan acara pembacaan alquran oleh kalangan dari para perantau sulawesi yang berada di jakarta .
Tibalah malam jumat itu, sebleum berangkat, saya mengajak teman di kontrakan tuk bersama ke rumah beliau, namun kebanyakan memiliki kesibukan masing masing, kuputuskan tuk memanggil ketua Formalis(Forum Komunikasi Mahasiswa Lipia se-Sulawesi)  walau sedikit gerimis, saya tetap melangkah menuju rumah beliau yang memang tidak begitu jauh dari kontrakan ku .
Aktivitas di rumah Pak Prof pun dimulai dengan shalat berjamaah, mengkhatamkan bacaan alquran, membaca yasin dan dilanjutkan dengan shalat isya berjamaah , taklupa pula jamuan makan malam setelah shalat menjadi agenda selanjutnya , keramhan serta kesopanan dari para hadirin membuat saya merasa tenang berda di sana, khususnya istri beliau yang sangatlah ramah kepada kami berdua, saya mengira istri beliau berasal dari sulawesi juga itu berka keramahan yang ditunjukkkannya kepada kami layaknya sudah lama kenal  .
Akhiranya , ketika jam menunjkkan pukul 09:30 pm, Pak Prof pun datang seraya memberi sedikit pencerahan/nasehat kepada kami para perantau yang berasal dari Sulawesi, ada satu perkataan yang saya ingat dari beliau bahwa “Jangan pernah berhenti menjadi orang Sulawesi, tetaplah bangga menjadi putra Sulawesi” , mengingat ini pertama kali kunjunganku ke rumah pak Wamenag, maka hal tersebut saya gunakan dengan sebaik baiknya, juga dengan memperkenalkan kepada beliau bahwa kami di Lipia mempunyai sebuah organisasi bernama FORMALIS .
Singkat cerita, akhirnya, kehadiran di rumah beliau pada malam jumat  menjadi salah satu kegiatan rutin kami bersama teman teman Formalis . Mengingat istri beliau sudah membuatkan absensi kehadiran bagi para anggota Formalis .
Begitulah cerita saya bisa berkenalan dengan Pak Wamenag Prof. Dr. Nasaruddin Umar MA.

Sekian dan Terima Kasih . 
Menuju rumah Pak Wamenag
Sore itu, sepulangku dari TPA Ar Rihard yang berjarak sekitar 100 meter dari kediamanku, dan memang menjadi rutinitas bagiku di sore hari, segera ku rebahkan badan ku tepat depan rumah diatas kursi bambu seraya memikirkan/mereview sejenak apa yang telah dan apalagi yang harus saya lakukan setelah ini .
Matahari mulai tenggelam, menandakan bahwa sebentar lagi akan terdengar seruan adzan maghrib, saya pun bersiap menuju salah satu musholla dekat rumah, namun anehnya saat itu saya berpikir ingin mencari suatu masjid yang cukup jauh dari kediaman ku, selain karena memang agak sedikit bosan dengan suasana musholla dekat rumah, juga karena saya ingin mencari suasana baru, ingin berinteraksi dengan masyrakat lebih luas lagi .
Teringat di benakku tentang masjid berwarna kuning tepat sebelum jalan raya ampera Jak-sel yang pernah kulihat, segera ku melangkah menuju tempat tersebut, berharap mendapatkan suasana yang lebih baru, fresh dan bisa sedikit menghibur bagi saya pribadi, dan benar saja, tatkala saya masuk mesjid kurasakan sebuah hal yang tidak saya dapatkan di musholla samping rumah saya (Penulis sama sekali tidak berpolemik tentang suasana musholla dekat rumah, karena semuanya ialah baitullah) .
Suasana fresh kurasakan tatkala saya baru saja masuk ke ruangan masjid, maklum ada beberapa ac pendingan yang aktif, masjid seperti ini yang saya cari di jakarta “gumamku dalam hati”, tat dapat dipungkiri memang peranan lingkungan dalam menunjang suatu aktivitas, dalam hal ini ibadah/penghambaan kepada zat yang maha suci Allah SWT.
Sebagaimana yang saya katakan sebelumnya bahwa saya sangat suka berinteraksi dengan orang yang saya jumpai khususnya di masjid, maka saya pun sempatkan berbincang sejenak dengan salah satu jamaah masjid (Masjid Baitul Makmur) bernama pak Siswanto, karena saya memang belum terkenal (hahahaha mau terkenal yaa??) maka mulailah kuperkenalkan diriku dan sedikit bertanya tentang profile pak Siswanto ini, hingga beliau mengatakan bahwa di masjid baitul makmur (tempat kami shalat tadi) selalu diisi kajian alqur’an setelah shalat shubuh, bahkan pematerinya juga bukan orang sembarang dia adalah  Wamenag Prof. Dr. Nasaruddin Umar MA. asli putra sulawesi (setahu saya) , rasa penasaranku langsung menanjak bertambah setelah mendengar kabar tersebut , sungguh saya sangat penasaran bagaimana sosok bapak Wamenag tersebut . Tak sabar ingin bertemu beliau .
Tatkala saya berjalan menuju masjid baitul makmur di shubuh hari , entah sengaja atau tidak , saya kembali bertemu dengan bapak yang kemarin maghrib itu, keakraban kami berdua semakin terasa saat itu, kami pun berjalan bersama menuju masjid . Seseorang dengan sorban menutupi kepala nya duduk dengan khusyuk tepat di barisan pertama masjid itu, pak Siswanto berujar kepadaku bahwa itulah Pak Prof. Nasaruddin Umar yang kami ceritkan semalam.
Beliau mengimami shalat shubuh pada hari itu dan melanjutkan dengan kajian satu ayat yang memang menjadi kegiatan rutin di masjid setelah shubuh , hari kian berlalu , shalat di masjid tersebut seakan sudah menjadi kebiasaan bagiku , pernah suatu shubuh saya memberanikan diri tuk menghadap beliau, sekedar  tuk berbincang ringan memperkenalkan diri saya kepadanya, saat itu langkah kupercepat guna mengahampiri beliau yang mendahului ku,
“Assalamualaikum” tegurku dari belakang
“Waalaikumussalam” jawaban dari belaiu . Sempat ku terdiam sebelum mengucapkan kata kata, namun berkat keramahan belaiu, saya pun mulai memperkenalkan diri saya .
Kembali ku bertemu dengan salah satu staf pembantu di rumah beliau ketiak saya bverjalanj menuju masjid pada sholat maghrib, dengan sedikit pembicaraan bersamanya, beliau mengajak saya tuk datang ke rumah Pak Prof pada malam jumat, memang setiap malam jumat selalu diadakan acara pembacaan alquran oleh kalangan dari para perantau sulawesi yang berada di jakarta .
Tibalah malam jumat itu, sebleum berangkat, saya mengajak teman di kontrakan tuk bersama ke rumah beliau, namun kebanyakan memiliki kesibukan masing masing, kuputuskan tuk memanggil ketua Formalis(Forum Komunikasi Mahasiswa Lipia se-Sulawesi)  walau sedikit gerimis, saya tetap melangkah menuju rumah beliau yang memang tidak begitu jauh dari kontrakan ku .
Aktivitas di rumah Pak Prof pun dimulai dengan shalat berjamaah, mengkhatamkan bacaan alquran, membaca yasin dan dilanjutkan dengan shalat isya berjamaah , taklupa pula jamuan makan malam setelah shalat menjadi agenda selanjutnya , keramhan serta kesopanan dari para hadirin membuat saya merasa tenang berda di sana, khususnya istri beliau yang sangatlah ramah kepada kami berdua, saya mengira istri beliau berasal dari sulawesi juga itu berka keramahan yang ditunjukkkannya kepada kami layaknya sudah lama kenal  .
Akhiranya , ketika jam menunjkkan pukul 09:30 pm, Pak Prof pun datang seraya memberi sedikit pencerahan/nasehat kepada kami para perantau yang berasal dari Sulawesi, ada satu perkataan yang saya ingat dari beliau bahwa “Jangan pernah berhenti menjadi orang Sulawesi, tetaplah bangga menjadi putra Sulawesi” , mengingat ini pertama kali kunjunganku ke rumah pak Wamenag, maka hal tersebut saya gunakan dengan sebaik baiknya, juga dengan memperkenalkan kepada beliau bahwa kami di Lipia mempunyai sebuah organisasi bernama FORMALIS .
Singkat cerita, akhirnya, kehadiran di rumah beliau pada malam jumat  menjadi salah satu kegiatan rutin kami bersama teman teman Formalis . Mengingat istri beliau sudah membuatkan absensi kehadiran bagi para anggota Formalis .
Begitulah cerita saya bisa berkenalan dengan Pak Wamenag Prof. Dr. Nazaruddin Umar MA.

Sekian dan Terima Kasih .