Sabtu, 02 Mei 2015



Hukum Bersetubuh Pada Siang Hari Bulan Ramadhan Dalam Keadaan Lupa
 
Sudah menjadi fitrah bagi manusia sejak zaman nabi Adam as. yang diciptakan berpasang-pasangan untuk saling melengkapi satu sama lain khususnya dalam membangun mahligai rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah . Karena hal tersebut memang telah dijelaskan oleh Allah Swt dengan firmannya dalam surah Ar-Rum ayat 21 :
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ } [الروم: 21[
Artinya : 21. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Dan merupakan hal yang mendukung terciptanya keluarga yang sakinah ialah adanya keharmonisan keluarga khususnya dalam hubungan langsung antara suami dan istri .
Mengingat bulan Ramadhan yang tinggal menghitung hari, maka pentingnya kita tuk membahas beberapa permasalahan terkait bulan ramadhan itu sendiri . Khususnya permasalahan Jima’ antara suami dan istri di bulan suci ramadhan dalam keadaan lupa . Lupa ?? Waah memang ada juga yah bersetubuh dalam keadaan lupa dalam bulansuci ramadhan ? Apa perkataan ulama terkait hal ini ?
Yang perlu kita ketahui bahwa  bersetubuh di malam hari bulan Ramadhan itu mubah, dan malam dimulai dengan terbenam matahari sampai terbit fajar. Sebagaimana Firman Allah dalam Alqur’an Surah Al-Baqarah ayat 187:
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ (سورة البقرة: 187(
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187)
Selanjutnya, apa perkataan ulama terkait seseorang yang bersetubuh di siang hari bulan ramadhan dalam keadaan lupa ?
A.    Mazhab Hanafiyah
Imam Ibnu Al-Humam (861 H) dari kalangan Hanafiah menyebutkan dalam Kitabnya Fath Al-Qadir terkait hal ini bahwasanya jika seseorang bersetubuh dengan istrinya dalam keadaaan lupa dan seketika ingat saat itu dan berhenti dari perbuatannya itu maka tidak membatalkan puasanya, tetapi apabila ia ingat dan tetap melanjutkan perbuatannya maka ia harus mengqadha puasanya tersebut :
ولو بدأ بالجماع ناسيا فتذكر إن نزع من ساعته لم يفطر وإن دام على ذلك حتى أنزل فعليه القضاء، ثم قيل: لا كفارة عليه وقيل: هذا إذا لم يحرك نفسه بعد التذكر حتى أنزل، فإن حرك نفسه بعده فعليه الكفارة، كما لو نزع ثم أدخل [1]
          Az-Zayla’i (743 H) juga dari kalangan Hanafiyah menyebutkan dalam kitabnya Tabyiin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq       dalam bab hal yang merusak puasa dan yang tidak bahwasanya jika seseorang berpuasa kemudian makan, minum dan bersetubuh dalam keadaan lupa maka hal tersebut tidak membatalkan puasanyan :
(باب ما يفسد الصوم وما لا يفسده).                
قال - رحمه الله - (فإن أكل الصائم أو شرب أو جامع ناسيا أو احتلم أو أنزل بنظر أو ادهن أو احتجم أو اكتحل أو قبل أو دخل حلقه غبار أو ذباب وهو ذاكر لصومه أو أكل ما بين أسنانه أو قاء وعاد لم يفطر)[2]

B.     Mazhab Maliki

Ibnu Abdil Barr (463 H) dari kalangan Malikiyah menyebutkan dalam kitabnya Al-Kaafi Fi Fiqhi Ahli Al-Madinah bahwasanya jika seseorang makan, minum dan bersetubuh dalam keadaan lupa maka tidak ada baginya pilihan kecuali mengqadha puasanta tersebut :
ومن أكل أو شرب أو جامع ناسيا أو مجتهدا متأولا في نهار رمضان فليس عليه إلا القضاء وكذلك كل صوم واجب وان كان متطوعا فلا شيء عليه. [3]

C.    Mazhab Syafi’i
Imam An-Nawawi (676 H) dari kalangan Syafi’iyah menyebutkan dalam dua  kitabnya Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab dan Raudhoh At-Tholibin wa Umdah Al-Muftin terkait hal ini bahwa bersetubuh dalam keadaan lupa bahwa ia sedang berpuasa tidak membatalkan puasanya, dan ini merupakan pendapat resmi dalam mazhab kami sebagaimana dalam kitabnya :
إذا أكل أو شرب أو تقايأ أو استعط أو جامع أو فعل غير ذلك من منافيات الصوم ناسيا لم يفطر عندنا سواء قل ذلك أم كثر هذا هو المذهب والمنصوص وبه قطع المصنف والجمهور من العراقيين وغيرهم وذكر الخراسانيون في أكل الناسي إذا كثر وجهين ككلام الناسي في الصلاة[4]
ولو جامع ناسيا، لم يفطر على المذهب. [5]
Zakaria Al-Anshari (926 H) dari kalangan Syafi’iyah menyebutkan dalam kitabnya Asna Al-Matahlib fi Syarhi Raudh At-Thalib bahwa salah satu hal yang tidak membatalkan puasa ialah seseorang yang bersetubuh dalam keadaan lupa, beliau mengqiyaskan hal tersebut dengan orang yang makan dalam keadaan lupa .
 (ولا يفطر الناسي) للصوم (و) لا (الجاهل) بتحريم ما فعله وبكونه مفطرا (المعذور) بأن قرب عهده بالإسلام أو نشأ ببادية بعيدة عن العلماء (بالأكل ولو كثر) لعموم خبر الصحيحين «من نسي وهو صائم فأكل أو شرب فليتم صومه فإنما أطعمه الله وسقاه» في رواية صححها ابن حبان وغيره ولا قضاء عليه وفارق الصلاة بأن لها هيئة تذكر المصلي أنه فيها فيندر ذلك فيها بخلاف الصوم (ولا بالجماع) قياسا على الأكل  . [6]

D.    Mazhab Hanbali  
Ibnu Qudamah (620 H) dari kalangan Hanabilah menyebutkan dalam kitabnya Al-Mughni bahwa pendapat dalam mazhab kami terkait seseorang yang bersetubuh dalam keadaan lupa sama dengan orang yang melakukannya secara sengaja .
المسألة الرابعة، أنه جامع ناسيا، فظاهر المذهب أنه كالعامد. نص عليه أحمد [7]
Al-Mardawi (885 H) juga dari kalangan Hanabilah mengatakan bahwa barang siapa yang bersetubuh dengan istrinya pada siang hari bulan ramadhan maka harus baginya mengganti puasanya dan membayar kaffarat baik dalam keadaan sengaja ataupun tidak disengaja (lupa)
قوله (وإذا جامع في نهار رمضان في الفرج، قبلا كان أو دبرا) يعني بفرج أصلي في فرج أصلي (فعليه القضاء والكفارة، عامدا كان أو ساهيا) .[8]

E.     Mazhab Dzhahiri
Ibnu Hazm Al-Andalusi (456 H) yang merupakan pembaharu mazhab tersebut menyebutkan dalam kitabnya Al-Muhalla Bi Al-Atsar bahwsa bersetubuh dalam keadaan lupa tidak membatalkan wudhu sebagaimana makan dalam keadaan lupa :
ورأى الجماع ناسيا لا يبطل الصوم، قياسا على الأكل، ولم يقس الآكل نائما على الآكل ناسيا؛ [9]

Seperti itulah penjelasan beberapa Ulama terkait hukum seseorang yang bersetubuh dengan istrinya pada siang hari bulan ramadhan dalam keadaan lupa .
Wallahu A’lam Bi Sshowab . 














[1] Imam Ibnu Al-Humam (861 H) , Fath Al-Qadir , juz 2 hal 328 .
[2] Az-Zayla’i (743 H) , Tabyiin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, juz 1 hal 322
[3] Ibnu Abdil Barr (463 H) , Al-Kaafi Fi Fiqhi Ahli Al-Madinah , juz 1 hal 341
[4] Imam An-Nawawi (676 H), Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab, juz 6 hal 324
[5] Imam An-Nawawi (676 H), Raudhoh At-Tholibin wa Umdah Al-Muftin , juz 2 hal 363
[6] Zakaria Al-Anshari (926 H), Asna Al-Matahlib fi Syarhi Raudh At-Thalib, juz 1 hal 417
[7] Ibnu Qudamah (620 H) , Al-Mughni , Juz 3 , Hal 135 .
[8] Al-Mardawi (885 H) , Al-Inshaf Fi Ma’rifati Ar-Rajih Minal Khilaf , juz 3 hal 311
[9] Ibnu Hazm Al-Andalusi (456 H) , Al-Muhalla Bi Al-Atsar , Juz 4 , Hal 358