Sabtu, 18 April 2015



Konsep Nabi dan Wahyu dalam Islam


Pengertian Nabi :
Nabi dalam pengertian bahasa adalah bahasa arab yaitu Nabaa-Yanbau , yang artinya pemberi kabar , mengapa ? karena ia menyampaikan wahyu/berita dari Allah swt [1]
Adapun dalam istilah : Abdul Qahir AlBaghdaadi (429 H) Mengungkapkan : Nabi ialah mereka yang diturunkan wahyu kepadanya dari Allah swt melalui lisan Malaikat Malaikatnya [2]  . Namun satu hal lagi yang perlu dicatat bahwa bukan setiap yang diwahyukan oleh Allah swt itu bisa disebut sebagai Nabi , sebagaimana Firman Allah swt :
 وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada Lebah [3] .
Dalam ayat ini Wahyu bermaknya Insting  , yaitu bahwa hewan itu juga memiliki insthing dalam berbuat .
وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أرْضِعِيهِ
Dan Kami Wahyukan kepada Ibu Musa alaihi Assalam untuki menyususinya . [4]
Dalam hal ini wahyu berarti pengilhaman dari Allah swt  .
Terkait perbedaan Nabi dan Rasul maka Imam Ibnu Abi Al-izzi Al-hanafi  mengatakan dalam kitabnya antara lain :
1.      Nabi itu tidak diperintahkan/disyariatkan menyampaikan apa yang ia diwahyukan kepadanya , adapun Rasul maka ia diperintahkan tuk menyampaikannya kepada kaumnya , berupa syariat .
2.      Setiap Rasul itu merupakan Nabi dan tidak sebaliknya  [5]


Adapun mengenai Wahyu maka dalam kamus Al Muhitth bahwa : Wahyu itu ialah hal yang
1.      Al Maktub (Tertulis )
2.      Ar Risalah (Pesan)
3.      Al Ilhaam (Pengilhaman)
4.      Al Kalam Al Khafi (Perkataan yang besifat tersembunyi) .
Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa beberapa kitab yang Allah trunkan/wahyukan kepada para rasulnya antara lain , Kitab Taurat kepada Nabi Musa as , Kitab Zabur kepada Nabi Daud as , Kitab Injil kepada Nabi Isa as serta yang terakhir yaitu Kitab Al qur’an yang diturunkan kepada Nabi kita Muhammad saw secara berangsur angsur selama 23 tahun lamanya yang mana tak ada keraguan di dalam nya sedikitpun sebagaiman firman Allah swt dalam kitab nya :
y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu ¡ ÏmÏù ¡ Wèd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ÇËÈ  
2. Kitab[6] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,[7]
Ayat diatas merupakan jaminan dari Allah akan kebenaran yang terkandung di dalam Alquran . Namun ada saja beberapa kelompok khususnya di era modern ini yang masih meragukan , menafsirkan dengan bebas , mengotaak atik , serta mengatakan bahwa Alqur’an perlu direvisi dan berbagain tuduhan lain yang tidak ada dasarnya sama sekali .
Terkait hal itu maka Al Imam Ibnu Abi Al-izzi Al-hanafi  menuliskan dalam kitabnya Syarh Al-Aqidah At-thohawiyah bahwa :
وأن القرآن كلام الله ، منه بدا بلا كيفية قولا ، و أنزله على رسوله وحيا ، وصدقه المؤمنون على ذلك حقا ، و أيقنوا أنه كلام الله تعالى بالحقيقة ، ليس بمخلوق ككلام البرية . فمن سمعه فزعم أنه كلام البشر فقد كفر وقد ذمه الله وعابه و أوعبه بسقر .
Sesungguhnya Al qur’an itu merupakan Kalam ilahi yang besumber darinya tanpa mempertanyakan hal tersebut , kemudian diturunkan kepada Rasulnya dengan wahyu , dan disepakati/dipercayai oleh mu’min secara haq , serta yakin bahwa ini merupakan Kalam Ilahi dan bukan tercipta (makhluk) sebagaimana perkataan manusia biasa . Maka barang siapa yang mendengarkannya kemudian meyakini bahwa hal tersebut merupakan perktaan manusia makasesungguhnya ia telah kafir , dan dijanjikan serta akan ditempatkan dalam neraka saqar [8]
Ini merupakan kaidah yang sangat agung nan mulia dan merupakan usul agama , namun di samping itu terdapat beberapa kelompok yang sesat dalam memhamai konsep wahyu serta kenabian dalam Islam itu sendiri , diantara : Ahlu Al Kalam , Al Falsafah , Al Mu’tzailah , Al-Maturidiyah dan masih banyak yang lain .

Wallahu A’lam Bi Ash-Showab .
 


[1] المصباح المنير مادة " ن ب أ
[2] AlJami’ Li Ahkaami AlQur’an , 12/80 Dar Kitab Al Arabi .
[3] QS An Nahl 68 .
[4] QS AL Qoshos ,  7
[5] Al Imam Ibnu Abi Al-izzi Al-hanafi   , Syarh Al-Aqidah At-thohawiyah , hal 168
[6] Tuhan menamakan Al Quran dengan Al kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis.
[7] Takwa Yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.
[8] Al Imam Ibnu Abi Al-izzi Al-hanafi   , Syarh Al-Aqidah At-thohawiyah , hal 168

Tidak ada komentar:

Posting Komentar