Sabtu, 28 Februari 2015



Impasse Media di Indonesia .


            Sekarang ini kita sudah sangat sering disibukkan dengan banyaknya berita di beberapa media lokal di Indonesia, khususnya TV  . Yang dahulunya TV merupakan barang mewah yang hanya dimiliki oleh mereka para kelas atas , namun saat ini  media yang satu ini sudah sangat gampang didapatkan ,  bahkan sampai ke pelosok desa pun kita akan mudah mendapatkannya . 

            Impasse sebagaimana pengertian denotatif (Kamus webster, misalnya) menggambarkan satu situasi dimana tidak ada kemajuan sama sekali , bahkan boleh jadi peluang untuk itupun tidak ada . [1]Disini saya tidak berpolemik tentang kehadiran media TV di berbagai tempat , namun yang perlu menjadi catatan ialah apa yang ditayangkan oleh media ini . Cukup ironis memang tatkala kita memperhatikan tayangan Tv dewasa ini , seakan semua hanya untuk kepentingan beberapa orang yang terkait di dalamnya saja tanpa memperhatikan sedikitpun dampaknya kepada masyarakat luas . 

            Sebagai contoh seorang siswa sekolah dasar memukuli temannya sampai mati hanya karena menumpahkan minuman seharga seribu rupiah . Ironis memang namun ini fakta kawan . Tayangan bagi anak anak generasi pelanjut , semua mengajarkan tentang sihir,  perkelahian, sifat kurang ajar serta durhaka kepada kedua orang tua , maka bukan lah sebuah hal yang mengherankan jika anak anak kita tumbuh dengan lingkungan jurang baik sehingga menghasilkan generasi yang bisa nya tawuran saja, demo serta kurang ajar atau durhaka kepada orang tuanya , Naudzubillah . Itulah produk mutakhir kita saat ini , antara lain 

Tak dapat dipungkiri bahwa ini merupakan dampak dari apa yang disaksikan oleh anak/adik kita yang luput dari control orang tua mereka . sebuah perkataan orang bijak bahwa : Anak merupakan peniru yang sangat handal . Ketika kita memeprhatikan fenomena ini maka akan kita dapatkan bahwa setidaknya ada beberapa sebab terjadinya hal yang menyebabkan kenakalan remaja kita saat ini yaitu :


1.     Kurangnya perhatian orang tus terhadap anaknya .
Anak bagi orang tua merupakan buah perkawinan yang menyenangkan. Dibalik itu, anak adalah amanat yang dibebankan atas orang tua. Tidak boleh disia-siakan dan di sepelekan. Pelaksana amanah harus menjaga dengan baik kondisi titipan agar tidak rusak. Sebab orang tua kelak akan ditanya tentang tanggung jawabnya.
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
كلكم راع و كلكم مسؤول عن رعيته .
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang tanggungjawabnya”.(Hadits shahih)

Betapa banyak kita saksikan sekarang ini orang tua yang sibuk mencari uang siang dan malam tanpa sekalipun memikirkan kebutuhan sang anak ,bahkan yang terjadi di kota besar, dimana banyak orang tua yang berangkat kerja sebelum anaknya terbangun dari tidur dan datang ke rumah ketika anaknya telah tertidur pulas , sungguh menyedihkan hal seperti ini , seakan  mereka lebih mementingkan pekerjanya dibanding sang anak . Apakah kita mengira bahwa anak itu hanya membutuhkan uang ? hanya membutuhkan mainan yang kita hadiahkan bagi mereka ? tidak . Tetapi yang paling dibutuhkan oleh anak ialah Kasih sayang, pendidikan serta sentuhan hangat dari orang tuanya .
            Ada tiga pendidikan yang sangat berpengaruh bagi anak kita yaitu : Pendidikan di rumah  (orangn tua sebagai penanggung jawabnya) pendidikan di sekolah (guru sebagai aktor utama) serta Lingkungan dimana ia berada .

2.     Kurangnya pendidikan agama yang diperoleh anak anak kita sekarang .
Agama adalah dasar yang paling kuat untuk menuntun manusia berbuat kebaikan, jika pendidikan agamanya keropos , ditambah sedikit pendiidkan moral nya , maka taqk dapat dibayangkan apa yang akan terjadi . Coba kita perhatikan berapa jam sajakah anak anak kita memperoleh pelajaran agama ? jangan cuman santapan jasmani saja tetapi juga santapa rohani , bahkan inilah yang paling penting .

Setidaknya inilah beberapa sebab yang menyebabkan terjadinya dekadensi moral generasi muda kita saat ini .

Semoga catatan/tulisan singkat ini dapat bermanfaat .


Wallahu a’lam





[1] Koran Sindo hal 12 kolom budaya , terbit Minggu 11 Mei 2014 .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar