Jumat, 01 Agustus 2014


Barangkali Anda sedang membaca kata-kata ini, namun tidak menghiraukannya, karena menganggap tulisan ini hanyalah sekelompok kalimat yang panjang nan membosankan dan tidak penting tuk direnungkan.
Barangkali Anda sedang membaca kata-kata ini sampai selesai dan memikirkannya, maka Anda akan mengambil apa yang baik dan berguna. Bisa jadi Anda termasuk kelompok yang ini dan itu. Dan saya berharap Anda termasuk dalam kelompok yang kedua.

Sebuah ungkapan hikmah yang saya dapatkan dari sebuah buku kecilku yang menemani perjalan di sore hari ini. Semoga bisa menjadi renungan bagi kita semua guna menghargai sebuah pengorbanan besar.

SAYA SUDAH BESAR DAN MENGERTI.

Saya sudah besar dan sudah mengerti bahwa obat itu tidak semanis sirup.
Saya sudah besar dan sudah mengerti bahwa kakek saya tidak akan kembali lagi, seperti kata ibuku.
Saya sudah besar dan sudah mengerti bahwa ada hal hal lain yang lebih menakutkan dari kegelapan.
Saya sudah besar dan sudah mengerti bahwa orang tua tidak akan selalu menggenggam erat tangan saya untuk memgepresikan jalan hidup saya.
Saya sudah besar, agar saya menyadari bahwa masalah tidak bisa diselesaikan dengan sepotong permen.
Saya sudah besar dan saya mengerti bahwa bukan sata sendiri yang sudah besar, namun orang tua saya juga sudah semakin tua.
Saya sudah besar, sudah mengerti bahwa sikap keras ibu adalah cinta, kemarahannya adalah cinta dan hukumannya juga adalah cinta.
Alangkah indahnya hidup ini, alangkah uniknya dunia ini dan alangkah singkatnya umur ini.

Maaf Pythagoras: Ibuku adalah persamaan yang paling sulit.
Maaf Newton: Ibuku adalah rahasia gravitasi.
Maaf Edison: Ibuku adalah lampu pertama dalam hidup saya.
Maaf Plato: Ibuku adalah tempat yang paling luhir dalam hidupku.
Maaf Roma: Semua jalan menuji cinta ibuku.
Maaf Juliet: Ibuku adalah kekasihku.

Terima Kasih Ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar